Lima Menit Lagi

Oleh : Flora Patricia Br. Ginting Akuntansi’21

Pada suatu sore, di sebuah taman bermain…
Pada sebuah bangku, seorang ibu muda duduk bersebelahan dengan seorang pria. “Itu anak saya,” katanya, sambil jarinya menunjuk ke arah seorang bocah laki-laki bersweater merah yang sedang bermain prosotan.
“Seorang anak yang cakap,” puji pria itu. “Oiya di sebelah sana itu yang sedang main sepeda, memakai baju putih, adalah putri saya.”
Sejenak pria itu melongok ke arah arlojinya. Pria itu kemudian memanggil putrinya.
“Melisa, kita pulang sekarang?”
Tetapi anak itu menjawab, “Lima menit lagi ya, ayah? Lima menit saja.”
Pria itu menganggukkan kepalanya. Putrinya melanjutkan bermain sepeda dengan hati gembira. Beberapa menit akhirnya berlalu. Pria itu bangkit berdiri dan berseru kepada putrinya. “Waktunya habis!”
Kembali lagi putrinya memohon, “Lima menit lagi dong. Lima menit saja…” Pria itu tersenyum dan berkata, “OK!”
“Anda sungguh-sungguh seorang ayah yang sabar,” kata perempuan yang duduk di sebelahnya.

Pria itu tersenyum mendengarnya, kemudian berkata, “Kakaknya, Tommy, telah tiada setahun yang lalu. Dia ditabrak seorang sopir yang mabuk ketika dia sedang bermain sepeda, tidak jauh dari taman ini. Saya tidak pernah menghabiskan cukup waktu dengannya dan sekarang saya rela mengorbankan apa saja demi lima menit tambahan bersamanya. Saya telah berjanji untuk tidak membuat kesalahan yang sama terhadap Melisa. Melisa berpikir dia mendapatkan tambahan lima menit untuk bermain sepeda. Tetapi kebenaran yang sesungguhnya adalah saya mendapatkan tambahan lima menit untuk melihatnya bermain.”

Amanat: Hidup adalah perkara membuat prioritas. Apakah prioritas anda? Berilah seseorang yang anda kasihi lima menit tambahan dari waktu yang anda miliki pada hari ini!

 

Cerpen.pdf (unduh)

5 2 votes
Article Rating