Tata Pelaksana :

Pelaksana Diskusi Tematis I oleh Pengurus Komisariat dilaksanakan pada tanggal 21 Oktober 2021, dengan tema “Pertumbuhan Perekonomian Indonesia Pada Kuartal 2 Tahun 2021”.Kegiatan Diskusi Tematis I ini dibawakan oleh Ibu Aegina Siswana Surbakti yang merupakan Senior Ekonom Kantor Perwakilan BI Prov. Sumatera Utara.Diskusi Tematis 1 ini berlangsung dari pukul 15.35 WIB hingga 17.35 WIB. Diskusi Tematis I ini dihadiri sebanyak 35 orang , Peserta yang hadir terdiri dari pengurus komisariat sendiri dan anggota GMKI FEB USU. Diskusi Tematis ini dimulai dengan pembukaan oleh moderator yaitu Lidya Sarah Pakpahan (Biro Pendidikan Kader), dimana moderator disini memimpin jalannya Diskusi tematis I kemudian dilanjutkan dengan Doa yang dibawakan oleh Dewi Tambunan setelah doa kemudian moderator memberikan pretest kepada peserta sebelum memulai perdiskusian, Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh Ibu Aegina Siswana Surbakti , kemudia moderator melanjutkan sesi tanya jawab dimana hanya ada 3 penanya yang mengajukan pertanyaan kepada pemateri. Setelah tanya jawab moderator menutup kegiatan diskusi tematis I dengan memberikan kesempatan kepada pembicara untuk memberikan closing statement,dan moderator menutupnya dengan memberikan kesimpulan, dan memberi waktu mengisi post test serta yang terakhir doa penutup.

 

RESUME MATERI

Pertumbuhan Perekonomian Indonesia Pada Kuartal 2 Tahun 2021

Pandemi covid-19 telah melahirkan problematika berkepanjangan multi sector termasuk sektor ekonomi yang kemudian mengakibatkan terjadinya resesi ekonomi dan implikasinya. Resesi ekonomi memang menjadi momok tersendiri di tiap Negara terdampak Covid-19. Di awal-awal penyebaran virus corona, beberapa Negara saling susul masuk kejurang resesi. Hampir seluruh negara pun pernah mengonfirmasi masuk dalam krisis tersebut, termasuk Indonesia.

Namun saat ini pertumbuhan ekonomi sudah membaik, bahkan sudah menduduki angka  positif yaitu 7,07% yang bisa kita lihat pada tanggal 5 Agustus 2021 BPS meriliskan Hal tersebut. Banyak Faktor yang mendorong perekonomian Indonesia mulai membaik. Selain pertumbuhan ekonomi yang positif, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan II 2021 juga membaik, hal ini turut mendukung ketahanan eksternal. Hal ini juga didorong  oleh deficit transaksi berjalan triwulan II 2021 yang tetap rendah meski meningkat sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi domestik. Disamping itu, transaksi modal dan financial pada triwulan II 2021 kembali mencatatkan surplus, yang didorong oleh investasi langsung dan juga investasi portofolio.

Dengan adanya pelonggaran kebijakan level PPKM ini merupakan momentum perbaikan ekonomi domestic diprakirakan terus  berlangsung.aktivitas ekonomi domestic berangsur membaik , setelah mengalami perlambatan pada Juli 2021. Hal tersebut tercermin pada kinerja berbagai indicator dini, seperti naiknya penjualan eceran, kinerja ekspor yang tetap kuat, meningkatnya PMI Manufaktur, didukung membaiknya mobilitas masyarakat sejalan dengan pelonggaran kebijakan pembatasan mobilitas sebagai dampak respons penanganan Covid 19 yang semakin baik.

Ada 3 Kerangka Paparan yang disajikan oleh pemateri yaitu :

1.Perkembangan Ekonomi Global Terkini dan Outlook Tahun 2021

Kita bisa melihat bahwa pemulihan ekonomi itu tidak merata secara keseluruhan, dibeberapa negara dampak dari covid’19 ini masih sangat berpengaruh. Perekonomian masih lambat baik negara maju dan negara berkembang. Pandemi covid 19 memberikan Ketidakpastian dalam perekonomian dunia sehingga harus ada stimulus yang diberikan agar pemulihan ekonomi membaik. Setiap negara  memberikan strategi dalam pemulihan ekonomi ini. kita bisa melihat sinergi bauran kebijakan antara lain ada MONETER, MAKROPRU, SP-PUR, FISCAL, PPK, EKSYAR

2.PerkembanganEkonomi Indonesia Terkinidan Outlook 2021

Setelah Sembilan bulan, Indonesia akhirnya bisa keluar dari jurang resesi. Itu dibuktikan dengan pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 yang bertengger tinggi di level 7,07persen. Padahal, pada kuartal I masih terpuruk di angka -0,74 persen. Perbaikan ekonomi ini pun ditopang oleh kinerja positif di seluruh komponen permintaan dan Lapangan Usaha (LU)

Kinerja sisi lapangan usaha terus menunjukkan pertumbuhan yang positif di berbagai sektor. Ditengah keempat LU : Industri Pengolahan, Perdagangan, Penyediaan Akomodisi dan Makan Minum, serta Transportasi dan Pergudangan yang menjadi katalis utama pertumbuhan perekonomian Indonesia pada kuartal II 2021, beberapa LU seperti Pertambangan, dan konstruksi juga menunjukkan pertumbuhan yang positif.

3.PerkembanganPerekonomian Sumatera Utara Terkinidan Outlook 2021

 

Dari sisi perekonomian nasional, publikasi ini membahas pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II tahun 2020 dari sisi moneter, fiskal, neraca perdagangan, investasi, industri dalam negeri, perekonomian daerah, serta proyeksi ekonomi.Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 21-22 Juli 2021 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,50%, suku bunga Deposit Facility sebesar 2,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,25%. Keputusan ini sejalan dengan perlunya menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan karena ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah prakiraan inflasi yang rendah dan upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dari Covid-19. Selain itu, Bank Indonesia juga terus mengoptimalkan seluruh bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta mendukung upaya perbaikan ekonomi lebih lanjut, melalui berbagai langkah berikut:

1.Melanjutkan kebijakan nilai tukar Rupiah untuk menjaga stabilitas nilai tukar yang sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar;

2.Melanjutkan penguatan strategi operasi moneter untuk memperkuat efektivitas stance kebijakan moneter akomodatif;

3.Mendorong intermediasi melalui penguatan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan penekanan pada perkembangan premi risiko dan dampaknya pada penetapan suku bunga kredit baru di berbagai segmen kredit (Lampiran);

4.Memperkuat ekosistem penyelenggaraan sistem pembayaran melalui implementasi PBI PJP/PIP untuk simplifikasi dan efisiensiperizinan/persetujuan serta mendorong inovasi layanan sistem pembayaran;

5.Mempercepat dukungan sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal, untuk penyaluran bantuan sosial (bansos) Pemerintah dan mendukung efisiensi transaksi secara online;

6.Mendukung ekspor melalui perpanjangan batas waktu pengajuan pembebasan Sanksi Penangguhan Ekspor (SPE), dari semula berakhir 29 November 2020 menjadi sampai dengan 31 Desember 2022, untuk memanfaatkan momentum peningkatan permintaan negara mitra dagang dan kenaikan harga komoditas dunia;

7.Memfasilitasi penyelenggaraan promosi perdagangan dan investasi serta melanjutkan sosialisasi penggunaan Local Currency Settlement (LCS) bekerja sama dengan instansi terkait. Pada Juli dan Agustus 2021 akan diselenggarakan promosi investasi dan perdagangan di Jepang, Amerika Serikat, Swedia, dan Singapura.

 

Bank Indonesia terus mempercepat digitalisasi sistem pembayaran untuk akselerasi ekonomi keuangan digital dalam rangka mendukung pemulihan ekonomi nasional. Transaksi ekonomi dan keuangan digital tumbuh tinggi seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking. Nilai transaksi e-commerce pada triwulan I dan II 2021 meningkat 63,36% (yoy) menjadi Rp186,75 triliun, dan diproyeksikan meningkat 48,4%(yoy) mencapai Rp395 triliun untuk keseluruhan tahun 2021. Nilai transaksi Uang Elektronik (UE) pada triwulan I dan II 2021 meningkat 41,01% (yoy) mencapai Rp132,03 triliun, dan diproyeksikan tumbuh 35,7%(yoy) mencapai Rp278 triliun untuk keseluruhan tahun 2021. Demikian pula, nilai transaksi digital banking pada triwulan I dan II 2021 meningkat 39,39% (yoy) menjadi Rp17.901,76 triliun, dan diproyeksikan meningkat 30,1%(yoy) mencapai Rp35.600 triliun untuk keseluruhan tahun 2021. Bank Indonesia terus mempercepat implementasi kebijakan sistem pembayaran sesuai BSPI 2025 dalam rangka mendorong akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien, antara lain peningkatan transaksi dan perluasan merchant QR Code Indonesian Standard (QRIS), penyaluran bansos Pemerintah, penguatan ekosistem industri sistem pembayaran. Di sisi tunai, Uang Kartal Yang Diedarkan (UYD) pada Juni 2021 mencapai Rp832,4 triliun, meningkat 11,74% (yoy). Bank Indonesia tetap memastikan ketersediaan uang Rupiah untuk memenuhi kebutuhan uang masyarakat di seluruh wilayah NKRI dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

5 2 votes
Article Rating