Mei 2022

BUKAN MAHASISWA BIASA

Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi. Mahasiswa terdiri dari dua kosa kata, “Maha” berarti pihak yang paling besar dan “ Siswa” yang berarti orang yang sedang belajar di tingkat pendidikan tertentu. Sehingga Mahasiswa adalah seseorang yang memiliki peran jauh lebih besar dibandingkan dengan siswa biasa. Beberapa hal yang membedakan antara mahasiswa dengan siswa biasa adalah mahasiswa mampu berfikir lebih rasional, selalu berorientasi ke masa depan, mampu memikul tanggung jawab yang berat, berani dalam bertindak dan menyuarakan, pribadi yang mandiri. Dan ada satu hal yang senantiasa melekat dalam diri seorang mahasiswa, yakni sikap kritis.

Masyarakat selalu menganggung-agungkan para mahasiswa karena mereka percaya bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual yang mampu menyikapi permasalahan dan mengembalikan kesejahteraan rakyat. Mahasiswa kerap dikatakan sebagai “Agent of Change” dimana mahasiswa dipercaya mampu membuat perubahan kea rah yang lebih baik. Namun, apa yang telah dilakukan oleh mahasiswa masa kini? Apakah sikap kritis senantiasa dimiliki oleh mahasiswa saat ini?

Kondisi mahasiswa saat ini sangat jauh dari kondisi mahasiswa pada jaman dulu. Sikap kritis dan nasionalis, serta rasa peduli satu sama lain sudah semakin menurun. Sikap tidak mau tahu justru melekat pada mahasiswa saat ini. Tidak adanya lagi sikap kritis terhadap segala kebijakan baik dari pihak kampus dan pemerintahan. Hal ini membuat beberapa yang peduli menjadi tidak tampak dan terbungkam. Mahasiswa yang dulunya dianggap sebagai akademisi yang memiliki pendidikan lebih tinggi, nyatanya belajar hanyalah sebuah ajang formalitas. Mahasiswa sekarang hanya bisa mengkritisi tanpa memberi solusi serta menjadikan aksi demonstrasi sebagai gaya semata tanpa mengambil esensi yang tersirat. Sosial media hanya dijadikan topeng dibalik teriakan yang dilontarkan.

“Sadar terhadap lingkungannya dan panggilan Tuhannya”, merupakan Motivasi Pokok yang senantiasa melekat dalam setiap kader GMKI. Kondisi krisis di lingkungan mahasiswa saat ini kembali mengingatkan kita dengan sejarah berdirinya GMKI di lingkungan Perguruan Tinggi. Pada saat itu, para pendiri CSV of Java yang merupakan cikal bakal GMKI yang merupakan mahasiswa aktif pada masa itu memiliki kerinduan itu membangun kelompok-kelompok diskusi dan doa untuk bersama-sama membicarakan dan mengkritisi segala permasalahan yang terjadi di Indonesia. Melalui motivasi pokok tersebut, maka kita kader GMKI bukanlah mahasiswa biasa. Kita memiliki tanggung jawab yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.

 

Maret 2022

BANGKIT DAN BELAjAR DARI SERANGAN UMUM 1 MARET

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang terjadi di Yogyakarta yang dilakukan oleh jajaran tinggi militer di wilayah Divisi III/GM. Tujuan dari serangan ini adalah untuk membuktikan kepada dunia internasional, bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih ada dan kuat. Tanggal 1 Maret 1949, pagi hari, serangan besar-besaran dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Divisi III/GM III, Yogyakarta. Indonesia sempat berhasil menaklukkan Belanda, sebelum akhirnya tentara Belanda dari Magelang berhasil menerobos masuk dan mengatasi serangan tersebut. Tercatat dari pihak Belanda terdapat enam orang tewas. Di antaranya adalah tiga orang polisi. Kemudian sebanyak 14 orang luka-luka. Sedangkan di pihak Indonesia, tercatat 300 prajurit tewas dan 53 anggota polisi tewas. Kemudian, melalui terbitan bulan Maret 1949, korban di pihak Belanda selama bulan tersebut tercatat sebanyak 200 orang tewas dan luka-luka.

Serangan umum 1 maret ini adalah peristiwa sejarah yang tidak bisa dilupakan dan sangat membekas di Masyarakat Indonesia. Perjuangan mempertahankan kemerdekaan sama pentingnya dengan meraih kemerdekaan. Kondisi itu tercermin jelas dalam episode sejarah Serangan Umum 1 Maret 1949, di mana untuk mempertahankan kemerdekaan membutuhkan peran serta dan kerja sama.

Bagaimana kita saat ini? Sebagai mahasiswa apakah kita masih bisa mempertahankan semangat itu? Kita seharusnya bisa belajar dari serangan umum 1 maret ini, dimana dalam mempertahankan suatu hal yang harus diwujudkan yaitu peran dan kerja sama. Baik dalam sebuah organisasi, rekan kerja, tim dan lain-lain sangat diperlukan kerja sama ini. Kerja sama menjadi pokok utama dalam proses pelaksanaan kinerja organisasi. Melalui adanya komunikasi secara baik, anggota dari organisasi dapat bekerja sama dan mencapai tujuan bersama.

Mari kita  belajar  dan  bangkit  dari  peristiwa  bersejarah  ini.  Bangkit  dari keterpurukan dan belajar dari pengalaman yang ada.

Tema Maret.pdf (unduh)

 

Februari 2022

KASIH YANG BERDAMPAK

 

Kasih (bahasa Inggris: charity, bahasa Latin: caritas) dalam teologi Kristen dipahami oleh Thomas Aquinas sebagai “persahabatan manusia demi Allah” yang “mempersatukan kita dengan Allah”. Ia menyatakannya sebagai “yang paling utama dari kebajikan- kebajikan”. Selanjutnya Aquinas menyatakan bahwa “kebiasaan mengasihi meluas tidak hanya untuk cinta akan Allah, tetapi juga untuk cinta akan sesama kita”. Beberapa orang mendeskripsikan kasih dalam makna hanya sebagai perbuatan memberi dengan kebaikan hati.

Februari adalah bulan yang identik dengan cinta dan kasih sayang. Hal ini tak lepas dari perayaan valentine. Februari kerap dijadikan momentum untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada seseorang. Kasih yang diksudkan bukan sekedar isi pikiran kita, tetapi kasih yang mampu menyentuh pribadi secara nyata, bila kita mengasihi seseorang tetapi tidak berdampak pada orang tersebut, artinya kita belum mampu memahami bagaimana seharusnya kita mengasihi orang lain hingga menyentuh secara personal. Kita melihat bahwa ada dua kewajiban yang ditekankan oleh Yesus kepada kita, yaitu mengasihi Allah dan juga mengasihi sesama, ketika kita sungguh-sungguh mengasihi Allah maka implikasi yang di dapatkan adalah bagimana kita bisa saling mengasihi.

Dapat kah kita menjadikan kasih yang kita miliki berdampak bagi orang lain? Tentu!

Tuhan Yesus juga mengharapkan bahwa kasih yang kita miliki bisa berpengaruh bagi orang lain dan kita juga di tuntut menjadi teladan bagi orang lain juga. Terutama kita sebagai pemuda GMKI, yang pada dasarnya merupakan organisasi yang bergerak di tiga medan pelayanan yaitu gereja, perguruan tinggi dan masyarakat. Sudah seharusnya pelayanan dan pergerakan tersebut di gunakan sebagai sarana dalam menyebarkan kasih untuk itu mari kita wujudkan kasih yang nyata. Kasih yang dapat berpengaruh baik bagi sesama, agar kasih yang kita miliki bisa menjadi terang bagi orang lain dan tentunya menjadi teladan bagi banyak orang.

Kasih itu bukan untuk direncanakan, Kasih bukan hanya untuk dikhotbahkan, Kasih bukan untuk dislogankan atau diposterkan atau dikumandangkan, tetapi kasih harus diwujud- nyatakan, karena kasih merupakan bagian penting dalam kehidupan kita sebagai orang percaya.

Tema februari.pdf (unduh)

 

Januari 2022

NEW YEAR RESOLUTIONS

 

Berbicara soal resolusi tahun baru, sebagian orang mungkin berhasil melakukannya dan beberapa orang mungkin juga gagal. Jika berhasil menerapkan di tahun sebelumnya, selamat! Dan kalau belum, tetap semangat dan jangan menyerah!

Adalah hal yang biasa dan sudah wajar jika gagal dalam menerapkan resolusi tahun baru. Akan tetapi bukan berarti resolusi tahun baru tersebut tidak berguna. Walaupun pada dasarnya tahun baru itu cuma pergantian tahun saja, dan bisa dibilang tidak terlalu berpengaruh secara langsung terhadap kebiasaan kita sehari-hari. Prosesnya yang begitu spontan terlalu mudah untuk diciptakan, sehingga juga mudah untuk dilupakan? Lalu apa intinya?

Kita memang tidak bisa berubah secara spontan dan berubah secara konsisten setelah adanya pergantian tahun. Perlu adanya perubahan dalam diri dahulu untuk mendorong adanya resolusi. Kebanyakan orang membuat daftar resolusinya berupa mengatur keuangan dengan baik, mengurangi berat badan, menguasai kemampuan baru. Menurut James Clear dalam bukunya yang berjudul Atomic Habits, usaha-usaha seperti itu merupakan Outcome-Based Habits. Yaitu usaha yang didasarkan pada hasil yang ingin dicapai, akan tetapi ini bukanlah startegi yang efektif dalam membuat suatu perubahan.

Dalam bukunya tersebut, James Clear menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga level, yaitu yang pertama Outcomes atau mengubah hasil, seringkali tujuan levelnya ada di sini. Misalnya, turun berat badan. Yang kedua processes atau mengubah proses, kebiasaan levelnya ada di sini. Misal, pergi ke gym 4 kali dalam satu minggu. Dan yang terakhir identity atau mengubah identitas, merupakan level yang terbaik karena itu berarti kita mengubah mindset atau pola pikir, asumsi, kepercayaan kita.

Tahap Outcomes dan Processes biasanya susah diterapkan dan dijaga konsistensinya, sehingga seiring berjalannya waktu kebiasaan itu bisa berubah kembali, oleh karna itu jika kita ingin melakukan perubahan dalam diri, tahap yang paling efektif adalah level paling akhir yaitu “identity”. Dengan melakukan perubahan di level identity, otomatis perubahan di level “process” dan “outcome” akan mengikuti dengan sendirinya.

Sebagai contohnya, seseorang yang ingin memberhentikan kebiasaan merokok. Kalau dia menolak dengan mengatakan, “Tidak. Aku sedang mencoba berhenti nih.” Identitasnya masihlah seorang perokok. Sedangkan jikalau dia menolak dengan mengatakan, “Enggak. Aku bukan perokok.” Mengubah identitas, mengubah mindset.

Untuk membuat atau mengubah suatu kebiasaan, fokus pada pertanyaan ”kamu ingin jadi orang yang seperti apa?”, dan mulailah bertindak seperti orang tersebut.

“TETAPKANLAH RESOLUSI UNTUK MEMBANGUN IDENTITAS BARU!”

Dan ya, mulai dari kebiasaan yang kecil terlebih dulu, dan jangan lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap rencana hidup yang lebih baik!

 

 

Desember 2021

Mengais sukacita Natal

 

Natal adalah kata yang tidak asing lagi bagi kita. Kata yang selalu kita dengar di penghujung setiap tahun. Natal adalah suasana sukacita yang selalu dinantikan oleh banyak orang. Baik dari anak-anak, remaja, Pemuda bahkan orangtua sekalipun menantikan suasana sukacita Natal. Natal atau hari peringatan kelahiran Yesus Kristus sang juruselamat mengingatkan kita akan sukacita Natal.

Namun beberapa tahun terakhir ini kita dihadapkan dengan keadaan yang berbeda. Keadaan dimana aktivitas kita dibatasi, dibatasi karena ada masalahnya covid-19. Di masa Natal Di tengah-tengah pandemi saat ini timbul kerisauan dan ketakutan karena keadaan. Namun harapan sukacita masih bisa di wujudkan di Natal kali ini.

Sukacita yang seperti Natal sebelumnya. Hal ini memang bukan hal yang mudah namun dengan kerjasama dan keteguhan hati kita masing-masing sukacita Natal pasti akan tercapai terlebih lagi pasti Tuhan pasti akan selalu melindungi kita.

Bisakah kita mengais suatu hal baik dari situasi yang buruk ini, yang pada akhirnya itu bisa membawa sukacita jika kita memang betul-betul bisa melihat dari pandangan yang berbeda.

 

 

November 2021

PEMUDA/PEMUDI PAHLAWAN MASA KINI

 

Yang selalu kita dengar tentang pahlawan ialah seseorang yang telah melakukan suatu bentuk pengorbanan atau menjadikan orang lain yang pertama diatas dirinya dimana ia telah melakukan yang terbaik untuk orang tersebut disaat sedang mengalami kesengsaraan. Terdapat beberapa kunci dari arti seorang pahlawan diatas, yakni pengorbanan, menomor satukan orang lain, terbaik, dan kesengsaraan.

Pengorbanan berarti ia telah merelakan apa yang ada pada dirinya, menomor satukan orang lain berarti dia menganggap kepentingan orang lain diatas kepentingannya, terbaik berarti ia melakukan yang paling maksimal dengan segala kemampuannya disaat tersebut, dan kesengsaraan berarti suatu keadaan dimana kita tidak lagi dapat melakukan apapun untuk bertahan. 4 kunci tersebut mampu menciptakan suatu sejarah.

10 November 1945, Indonesia untuk pertama kalinya bertempur setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pasukan Inggris mengultimatum kota Surabaya sebagai ancaman dari aksi pertahanan pejuang Indonesia di Surabaya yang tidak ingin Surabaya dikuasai oleh Inggris. Namun tidak diindahkan oleh pejuang Indonesia dan pada tanggal 10 terjadilah pertempuran yang besar. Sebanyak 20.000 masyarakat Surabaya gugur pada saat itu. Surabaya kemudian mendapat julukan ‘neraka’ karena banyaknya kerugian. Dengan banyaknya pejuang yang gugur, rakyat menjadi korban, dan semangat tak kenal menyerah membuat Kota Surabaya disebut sebagai Kota Pahlawan.

Pejuang pada saat itu adalah pahlawan. Mereka mengorbankan diri mereka di tengah kesengsaraan dimana masyarakat Surabaya pada saat itu dikelilingi oleh pasukan bersenjata Inggris yang ingin merebut daerah mereka. Bahkan disaat sudah mendapat ancaman pun, pejuang Indonesia pada saat itu tetap bertahan walau dengan persenjataan seadanya untuk Surabaya. Masyarakat bersatu untuk kepentingan bersama.

Jika kita kaitkan dengan masa sekarang ini, nilai-nilai kepahlawanan seakan sirna. Seperti yang kita tahu, kemerosotan moral bukan hal yang baru lagi ditelinga kita. 5 atau 4 tahun yang silam, soal kemerosotan moral menjadi topik yang besar, baik di media sosial maupun media cetak. Namun, seperti biasanya, semua ditendang oleh perkembangan teknologi dan informasi yang terus memberikan isu lebih baru.

Berbicara soal moral bukanla hal yang sepele. Hal ini berbicara tentang arah perilaku dan etika generasi Indonesia kedepannya. Pada saat sekarang ini, yang sedang panas diberitakan adalah tentang beberapa oknum yang merusak lingkungan dan melakukan tindak asusila dengan beralasan untuk konten. Kepentingan pribadi selalu dinomorsatukan biarpun itu menyalahi aturan yang ada. Semua orang fokus kepada gawai masing-masing tanpa memperdulikan sekelilingnya. Lebih parahnya lagi, ada yang memakai uang bantuan yang seharusnya diberikan kepada masyarakat, malah dipakai untuk kantong pribadi.

Lantas bagaimana nasib Indonesia kedepannya? Sudah menjadi tanggung jawab kita para pemuda/pemudi kaum inteleqtual saat ini untuk memperbaiki hal tersebut. Perjuangan pahlawan Indonesia untuk tetap mempertahankan Surabaya dapat menjadi modal pengetahuan tentang apa arti pahlawan sebenarnya. Bersatu dan tak gentar. Mari menjadi pemuda/pemudi yang mampu menggerakkan kesadaran dan membangkitkan kembali nilai-nilai kepahlawanan tersebut. Kobarkan semangat memperingati hari pahlawan 10 November ini untuk membangkitkan kembali semangat kepahlawanan Indonesia.