Tema Website Bulan Oktober 2019                                                                                                                                        CITRA PEMUDA 

     Secara umum defenisi pemuda,dapat kita golongkan dalam tiga kategori yaitu terdiri atas usia pemuda,sifat dan karakteristik pemuda,dan tujuan pemuda. Secara biologis pemuda digolongkan kedalam mereka yang berusia antara 15 sampai dengan 30 tahun.  Secara psikologis,kematangan seorang pemuda adalah dimulain dari usia 21 tahun. Menurut WHO pemuda digolongkan dalam usia 10-24 tahun digolongkan sebagai young people, sedangkan remaja atau adolescence dalam golongan usia 10-19 tahun. Pemuda dalam kaca mata  alkitab pengkhotbah 11:9 tertulis” Bersukarialah, hai pemuda, dalam kemudaanmu, biarlah hatimu bersuka pada masa mudamu, dan turutilah keinginan hatimu dan pandangan matamu, tetapi ketahuilah bahwa karena segala hal ini Allah akan membawa engkau ke pengadilan”.  Dalam alkitab dijelaskan bahwa pemuda harus selalu dituntut bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukan.   Karakteristik pemuda dapat kita defenisikan secara negatif dan secara positif yaitu : Kemampuan kognitifnya sudah, hal ini tercermin dari kemampuan pemuda dalam mengetahui dan memahami suatu persoalan yang pada akhirnya dapat membentuk sikap pemuda terhadap permasalahan yang dihadapinya. Kematangan emosional, bahwa pemuda dengan dilandasi kemampuan berpikirnya dapat mengendalikan dan menempatkan emosinya dalam menghadapi permasalahan. Fungsi reproduksinya meningkat, sejalan dengan perkem¬bangan biologis seorang pemuda adalah kelompok manusia yang lebih siap untuk menikah dan memiliki keturunan.Banyak masalah, bahwa pemuda memang kaya akan ide-ide, dan ide ini sendiri dilandasi oleh nilai-nilai ideal. Namun tidak semua ide dan keinginan tersebut dapat terwujud karena kondisi di masyarakat sulit sekali mewujudkan nilai ideal tersebut. Keterasingan sosial, kemampuannya untuk berpikir ideal dan tidak memihak acapkali mendorong pemuda pada keadaan yang terasing dari lingkungan sosial Rasa tanggung jawab yang tinggi, hal ini dilandasi keinginan untuk mewujudkan segala sesuatu yang menjadi keinginannya. Akibatnya segala sesuatu yang dikerjakan, dilakukannya secara bertanggung jawab. Kreatif dan inovatif, hal ini berkaitan dengan penciptaan ide-ide atau pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.. Ketergantungan dengan generasi yang lebih tua, hal ini dilandasi kenyataan pemuda itu.

Nah,mahasiswa yang notabenenya sebagai pemuda memiliki fungsi yang sangat besar. Intelektual akademis,mahasiswa merupakan aset bangsa yang paling berharga,intelektual muda yang berkecimpung didalam miniatur sebuah negara yaitu kampus. Mahasiswa merupakan calon-calon emas untuk menduduki kursi-kursi penentu pembangunan bangsa ini. Maka,menjadi cadangan masa depan merupakan fungsi mahasiswa. Jadi, mahasiswa dan pemuda berfungsi sebagai agen perubahan. Seperti kita ketahui bahwa sifat mahasiswa itu adalah polos,lugu,rasa ingin tahu yang tinggi,dan amatir. Oleh sebab itu mahasiswa diharapkan dapat menangkap segala permasalahan yang terjadi,dan dikaji secara sitematis dan terukur. Yang kemudian di ekspresikan dalam kehiduan sehari hari. Inilah salah satu karakteristik pemuda atau mahasiswa yaitu kkreatif dan inovatif dalam menciptakan ide-ide dalam permasalahan yang dihadapi.

Namun,untuk kondisi pemuda saat ini peroblema pemuda yang ada didepan kita sekarang bukanlah sebuah permasalahan yang mudah,akan tetapi sebuah permasalahn yang sangat kompleks,mulai dari krisis ide,krisis mental,krisis eksistensi,hingga permasalahan dekadensi moral. Dengan adanya adanya pragmatismee yang dimiliki pemuda saat unu sehingga membuat semakin terjebaknya mahasiswa dalam kehidupan hedonisme,yang hidup serba instant,dan semakin hilangnya idealisme sehingga mendorong pemuda kepada anti sosisal. Lalu sebuah pertanyaan yang muncul dalam hati kita adalah apakah pemuda masih layak disebut agen perubahan? Tentu kita masih tetap menjawab ya! Karena masih ada pemuda yang memiliki kepedulian dan rasa tanggung jawab mereka terhadap perubahan bangsa ini. Oleh sebab itu keprihainan kita terhadap kondisi yang dialami oleh pemuda saat ini tetap harus kita perhatikan tanpa mengabaikan perubahan itu sendiri. Karena suatu perubahan tidak perlu menunggu orang banyak. Perubahan akan bergulir dengan sendirinya bersama para pemuda yang masih tetap teguh dengan komitmen yang dimilikin untuk mencapai sebuah perubahan.

Tema Website Bulan November 2019

LIKA-LIKU PERJUANGAN.

               Pemuda sebagai generasi penerus sebuah bangsa, kader Selakigus aset masyarakat. Seseorang atau komunitas manusia muda yang biasa di identikan dengan ke dinamisan dan perubahan-perubahan, betapa tidak, peran pemuda dalam perjuangan kemerdekaan bangsa ini, peran pemuda dalam menegakkan keadilan, peran pemuda yang menolak kekuasaan dan peran pemuda dalam pengawasan pelaksanaan kenegaraan hingga saat ini.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Kepemudaan tertulisbahwa “ Pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai
30 (tiga puluh) tahun”.Dalam kehidupan sebuah bangsa pemuda memilki peran penting dalam kemajuan peradaban. Tertulis dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia peran besar pemuda dalam perjuangan kemerdekaan yang tak kenal lelah.Perjuangan dengan penuh semangat pantang menyerah menyatukan bangsa ini. Tak bisa di pungkiri , berkat peran pemudalah kemerdekaan bangsa ini dapat diraih, beberapa tokoh pejuang muda seperi Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Jendral Sudirman, Sutan Syahrir, Bung Tomo yang berjuang tanpa henti memerdekakan bangsa Indonesia.Pemuda merupakan penerus perjuangan generasi terdahulu untuk mewujukan
cita-cita bangsa. Pemuda menjadi harapan dalam setiap kemajuan di dalam suatu bangsa, Pemuda lah yang dapat merubah pandangan orang terhadap suatu bangsa dan menjadi tumpuan para generasi terdahulu untuk mengembangkan suatu bangsa dengan ide-ide ataupun gagasan yang berilmu,wawasan yang luas, serta berdasarkan kepada nilai-nilai dan norma yangberlaku di dalam masyarakat.

                 Pemuda tidak selalu identik dengan kekerasan dan anarkisme tetapi lebih kepada daya pikir revolusionernya yang menjadi kekuatan utama. Sebab, dalam mengubah tatanan lama budaya bangsa dibutuhkan pola pikir terbaru,muda dan segar. Perkembangan pemikiran pemuda Indonesia mulai terekam jejaknya sejak tahun 1908 dan berlangsung hingga sekarang. Periodisasinya dibagi menjadi 6 (enam) periode mulai dari periode Kebangkitan Nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Proklamasi 1945, Aksi Tritura 1966, periode 1967-1998 (Orde Baru). bahwa Masa depan suatu bangsa terletak di tangan pemuda, artinya merekalah yang akan menggantikan generasi sebelumnya dalam memimpin bangsa. Sumpah Pemuda merupakan suatu komitmen bersama yang di pelopori kaum pemuda untuk bersatu melawan penjajah, memerangi kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan bidang pendidikan. Momen inilah yang membuka pintu bagi para pejuang hingga mencapai kemerdekaan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

                  Sumpah Pemuda sebagai catatan penting dalam sejarah Indonesia untuk mempersatukan perjuangan pemuda dalam merebut kemerdekaan. Sumpah Pemuda meletakkan arah dan tujuan
perjuangan menentang kolonialisme, salah satunya melalui pendidikan.Sumpah Pemuda sejatinya adalah cikal bakal menuju proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 Peranan pemuda dalam  kehidupan masyarakat, kurang lebih sama dengan peran warga yang lainnnya di masyarakat. pemuda mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum revolusioner yang sedang mencari peran dalam tatanan sosial. Pada saatnya nanti sewaktu mereka mendapatkan peran ,dia akan menuangkan ide ide barunya ke masyarakat. Pemuda-pemudi generasi sekarang sangat berbeda dengan generasi terdahulu dari segi pergaulan atau sosialisasi, cara berpikir, dan cara menyelesaikan masalah.Pemuda-pemuda zaman dahulu lebih berpikir secara rasional dan jauh ke
depan. Dalam arti, mereka tidak asal dalam berpikir maupun bertindak, tetapi mereka merumuskannya secara matang dan mengkajinya kembali dengan melihat dampak-dampak yang akan muncul dari berbagai aspek.

Tema Website Bulan Desember 2019

KESATUAN PEMUDA DALAM BERDIAKONIA

Kelahiran Yesus selama ini selalu dimaknai banyak umat Kristen dengan “koinonia.” Di mana-mana Gereja, maupun umat Kristen sibuk mempersiapkan “ibadah-ibadah dan perayaan Natal.” Saya bukan hendak mengatakan bahwa “ibadah dan perayaan Natal” tidak perlu, tetapi kelahiran Yesus di dunia ini pun perlu dimaknai dari sudut “diakonia” dan “marturia” secara berimbang. Berimbang maksudnya, kelahiran Yesus di dunia ini perlu kita rayakan melalui Ibadah (koinonia), aksi sosial (diakonia), dan kesaksian (marturia).

 Memang kita bisa melihat bahwa ada Gereja, lembaga/instansi maupun keluarga yang memaknai Natal dengan “berbagi kasih” ke Panti-panti Asuhan, kepada anak terlantar. Tetapi fenomena ini hanya sedikit. Saya terkesima mendengar cerita dari pengalaman menggereja (eklesiologi) dari Gereja Mennonite di Amerika. Jemaat Mennonite di sana, pada masa-masa Natal telah berusaha merayakannya dengan berbagi kasih dengan umat manusia di belahan dunia yang membutuhkannya. Misalnya, pada Natal 2019 ini mereka akan memberikan dana yang sudah mereka kumpul selama setahun kepada Gereja-gereja atau masyarakat di daerah Afrika. Tentu mereka tetap akan melaksanakan ibadah Natal di Gereja mereka di Amerika, tetapi sebagai bukti mereka telah menerima kelahiran Yesus dalam hidup mereka, mereka berbagi kasih (diakonia) kepada sesama manusia di Afrika. Itulah sebabnya saya mengatakan tema ini menarik kita bahas dan diskusikan di ruang public ini agar menjadi inspirasi bagi kita untuk memaknai masa-masa Natal ke masa depan.

Diakonia Zaman Now

Timbul pertanyaan kita sekarang, diakonia apakah yang perlu kita kembangkan dalam memaknai Natal (kelahiran Yesus) di dunia ini dalam situasi dan kondisi kita menjalani era industri 4.0 ini? Apakah kita akan melakukan romantisme masa lalu dengan mengembangkan Diakonia Pargodungan atau menawarkan sebuah baru di zaman now, yakni: Diakonia Era Digital 4.0.

Diakonia Era Digital 4.0 adalah diakonia barbasis aplikasi. Gereja harus membuka diri dengan melakukan diakonia melalui aplikasi di play store atau apple store. Diakonia mencoba melayani umat yang sedang mengalami banyak pergumulan iman, ekonomi, dan karir. Gereja membuka aplikasi “Go Pendeta”, “Go Health”, “Go Faith”, dll.

Dengan perkembangan zaman ini maka diakonia kita pun harus mengikuti perkembangan zaman. Diankonia berbasis digital akan mempengaruhi kemajuan bangsa. Kita melihat banyaknya para pejabat Negara sekarang yang dipilih menjadi pejabat public karena kemampuan mereka untuk mengelola bangsa dari segi digital. Gereja pun jika ingin memberi masukan ke bangsa dan Negara maka diakonia kita pun harus berubah menuju diakonia barbasis ditigal. Semoga!!!

Salam Diakonia