SUDAHKAH PARA PETANI MERAYAKAN DENGAN SYUKUR HARI TANI?

Romian Akt’19

Tersohornya Indonesia sebagai negara agraris, dengan suburnya lahan pertanian, membuat profesi petani mempunyai peran penting. Mengapa? Karena sejak era perjuangan menuju kemerdekaan, profesi petani kala itu sangat mendominasi kalangan masyarakat. Bung Karno menganggap petani sebagai tulang punggung bagi identitas Indonesia. Oleh karena itu Bung Karno juga lah yang memberikan sebuah kepanjangan khusus untuk kata ‘petani’, yakni sebagai Penyangga Tatanan Negara Indonesia, yang disampaikan pertama kali pada tahun 1952. Oleh karena itu, petani selalu dipandang spesial Sebago penjaga ketahanan pangan. Dan dilakukanlah Penetapan Hari Tani Nasional ini dimulai pada masa pemerintahan Presiden pertama RI Ir Soekarno.  Dimana setiap 24 September, Indonesia memiliki agenda khusus untuk petani, yaitu Hari Tani Nasional. Ini merupakan pesan atau peringatan bagi negara untuk terus meningkatkan keadilan para petani di Indonesia.

Akan tetapi pernahkah anda mendengar ketika masyarakat Indonesia disebut golongan miskin maka akan identik dengan Petani? Atau sebagai masyarakat yang tertinggaal maka identik dengan masyarakat sebagai petani? Mungkin banyak hal yang dapat mnedukung asumsi tersebut seperti kurangnya pengembangan IPTEK di daerah pedesaan. sehingga menyebabkan para petani kurang mampu mengolah pertanian dengan baik dengan memanfaatkan teknologi baru dan pola pikir yang baru. Dan kurangnya penyuluhan-penyuluhan pada para petani desa supaya mereka dapat termotivasi dengan pemikiran baru tentang pertanian yang semakin maju dalam perkembangan zaman saat ini. Mungkin untuk saat ini pemerintah sedang mengadakan penyuluhan kepada para petani akan tetapi belum berhasil sepenuhnya bisa jadi disebabkan oleh penyuluhan yang tidak merata bagi petani, penyelenggara penyuluhan yang tidak konsisten dengan tanggung jawab yang di emban dan banyak kemungkinan lainnya.

Meskipun begitu ada juga yang menyangga paradigma itu dimana petani orang miskin itu, salah! Petani adalah yang terkebelakang,itu salah! Karena petani itu akan selalu bisa diandalkan. Boleh kita lihat bahwa mereka sangat diandalkan terutama saat Covid-19. Di mana pemerintah sedang berusaha dalam ekspansi ketahanan pangan Nasional dengan menyusun kebijakan dalam menjaga rantai ketahanan pangan nasional. Walaupun beberapa pemerhati sudah memperingatkan bahwa potensi krisis pangan global akan terjadi akibat Pandemi COVID 19 dengan adanya pemberlakuan karantina wilayah, pembatasan sosial, dan larangan perjalanan. Akan tetapi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) dalam berbagai kesempatan selalu menegaskan keyakinannya, RI dapat melewati masa pandemi ini, bahkan keluar menjadi bangsa pemenang. Khususnya, untuk sektor pertanian, Mentan percaya kondisi ini bisa menjadi momentum memperkuat kemandirian pangan nasional. Dimana semua insan pertanian harus tetap bekerja dengan semangat tinggi dan tangguh, untuk mewujudkan harapan tersebut perlu tenaga ekstra keras, pemikiran-pemikiran out of the box, serta kerja sama yang semakin erat. Saatnya para petani, penyuluh, peneliti, akademisi, swasta, dan pelaku sektor pertanian lainnya untuk menjadi pahlawan bagi bangsa dan negeri ini dengan semangat kebersamaan.

Namun apakah semua petani sudah mengatahui bahwa ada perayaan spesial yaitu Hari Tani bagi mereka? Atau sudahkah mereka ikut serta mersakan keadilan dengan adanya perayaan disetiap tahun? Berdasarkan perayaan Hari Tani Nasional selama kurang lebih 70 tahun yang lalu faktanya sektor pertanian saat ini hanya dinikmati oleh segelintir orang saja yang notabene merupakan pihak minoritas seperti para pedagang/ penyalur produk pertanian. Sehingga perwujudan reformasi agraria tak kunjung terasa nyata dengan ditemukannya petani hidup dibawah garis kemiskinan. Dan sampai saat ini mereka ridak kunjung merasakan kesejahteraan yang digadang-gadang atas Undang-Undang Pokok Agraria(UUPA)

Dan petani sebagai produsen masih belum dapat merasakan nikmatnya usaha mereka. Kaum tani Indonesia belum menemukan kesejahteraan. Problem aktual yang dihadapi kaum tani Indonesia saat ini yang makin menyengsarakan kaum tani bersumber dari usaha kolonial baru bernama neoliberalisme. Salah satu contoh yang bisa kita lihat di wilayah Sumatera sendiri adalah perebutan lahan adat oleh PT Toba Pulp Lestari bahkan dengan adanya bentrok pekerja perusahaan perkebunan kayu, PT Toba Pulp Lestari (TPL) dengan warga adat Natumingka, di Kabupaten Toba, Sumatera Utara sampai mengalami luka-luka pada Selasa (18/5/21). Kenyataan lain  bisa kita lihat bahwa di setiap perayaan Hari Tani pasti di setiap daerah para petani yang bergabung di aliansi petani akan melakukan unjuk rasa dengan harapan apa yang telah di tetapkan di UUPA dapat terwujud bagi seluruh petani Indonesia. Seperti Warga Pakel, Banyuwangi menggelar aksi di Kawasan Patung Kuda, Jakarta yang terjerat  konflik agraria. Aksi demonstrasi petani di seluruh wilayah anggota SPI di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, Riau, Sumatra Seatan, Jambi, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, pada tanggal 24 September 2011.

Berdasarkan kenyataan-kenyataan yang masih dirasakan petani, bahwa besar harapan bangsa Indonesia ini khususnya petani agar kebijakan-kebijakan terkait Hari Tani boleh terwujud secara efektif an efisien. Dimana di 2021 Serikat Petani Indonesia mengambil tema “Percepatan Penyelesaian Konflik Agraria dan Penguatan Kebijakan Reforma Agraria untuk Menegakkan Kedaulatan Pangan dan Memajukan Kesejahteraan Petani dan Rakyat Indonesia”. Melalui hal tersebut masalah agraria kelak dapat teratasi oleh Pemerintah Republik Indononesia. Terkhususu di masa pandemi COVID-19 yang melanda Indonesia agaknya menjadi ujian bagaimana Pemerintah tidak hanya menjamin produksi pangan berjalan, tetapi juga menjamin kesejahteraan petani sebagai pemasok komoditas. Dan tidak lupa petani kini memiliki tanggung jawab besar untuk menjamin ketersediaan pangan, tetapi di sisi lain juga terus dibayangi dengan ancaman gagal panen akibat serangan hama. Kesejahteraan petani di Hari Tani Nasional ini, sudah mutlak untuk direalisasikan baik oleh Pemerintah, maupun sektor swasta.

3 2 votes
Article Rating