Konsep atau ajaran tentang Tuhan untuk setiap agama tentu berbeda-beda dimana hal itu diyakini bersumber dari wahyu yang diterima oleh pemimpin agama terdahulu. Dalam hal ini, agama Kristen bersumber dari ajaran yang dibawakan oleh Yesus Kristus yang lahir dan hadir di tanah Palestina 2000-an tahun yang lalu. Yesus Kristus memang tidak merombak ajaran lama yang di dalamnya Dia dibesarkan yaitu ajaran agama Yahudi yang bertitik tolak dari Hukum Taurat yang diajarkan oleh Musa sebagai pemimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir.

Dari kitab Keluaran pasal 3 dapat kita pahami bahwa bukanlah orang Israel yang mencari Allah melaiankan Allah sendiri yang mencari bangsa Israel. Bangsa Israel di Mesir sudah tidak mengenal Tuhannya lagi. Musa sendiri pada awalnya tidak tahu siapakah Nama Allah itu. Lalu Musa berkata kepada Allah: “Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? Apakah yang harus kujawab kepada mereka?” Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU (Keluaran 3: 13-14). Artinya, Allah itu keberadaanNya ditunjukkan dengan perbuatanNya agar manusia mengenal siapa Dia, dan beriman kepadaNya sesuai dengan tindakanNya. Konsep mengenai Allah bukan karena definisi manusa atau hasil rumusan manusia melainkan memahami Allah itu karena Ke-AKU-anNya yang adalah sedemikian.

Ajaran keesaan Tuhan Allah dengan tegas dikatakan dalam Perjanjian Lama. “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa !” (Ulangan 6: 4). Inilah menjadi dasar iman bangsa Israel sehingga mereka tidak boleh menyembah allah lain. Dalam Hukum Taurat Pertama dikatakan: “Akulah Tuhan, Allahmu, tidak boleh ada padamu allah lain di hadapanKu”. Ajaran keesaan Tuhan adalah ajaran yang sama yang dibawakan oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus juga mengajarkan kepada orang Yahudi bahwa Tuhan  Allah itu esa.

Allah yang esa itu hadir dalam tiga wujud yang merupakan satu kesatuan. Itulah yang disebut dengan ajaran Trinitas. Trinitas” berasal dari kata Inggris “triunity” merupakan gabungan dari kata “three” yang berarti “tiga” dan “unity” yang berarti “kesatuan”. Ada satu Allah yang benar dan satu-satunya, tetapi di dalam keesaan dari Ke-allahan ini ada tiga Pribadi yang sama kekal dan setara, sama di dalam hakekat tetapi beda di dalam Pribadi”. Tuhan Allah Bapa sebagai Pencipta, yang menciptakan semesta alam dan segala isinya. Sedangkan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat dari dosa. Yesus Kristus memiliki dan menunjukkan sifat-sifat KeilahianNya dapat kita pahami dari pengakuanNya sendiri  yang memiliki sifat-sifat yang hanya dimiliki oleh Allah, yaitu: (1) Kekekalan: Ia mengaku sudah ada sejak kekal (Yohanes 8:58; 17:5); (2) Mahahadir: Ia mengaku hadir di mana-mana (Matius 18:20; 28:20); (3) Mahatahu: Ia memperlihatkan pengetahuan tentang hal-hal yang hanya dapat diketahui jika Ia mahatahu (Matius16:21; Lukas 6:8; 11:7; Yohanes 4:29); (4) Mahakuasa: Ia memperagakan dan menyatakan kekuasaan satu Pribadi yang Mahakuasa (Matius 28:20; Markus 5:11-15;Yohanes 11:38-44). Ia adalah Anak Allah (Yohanes 10:36). Dia sendiri adalah Tuhan dan Allah: disebut sebagai Allah (Yohanes 1:1; 20:28; Ibrani 1:8), sebagai Tuhan (Matius 22:43-45), dan Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan (Wahyu 19:16).

Sedangkan Roh Kudus yang adalah Roh Allah sendiri merupakan Penghibur (Parakletos), Pembimbing, Pemelihara.  Tuhan Yesus berkata: “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16-17). Dapat kita lihat juga dalam Perjanjian Lama bahwa Roh Allah turun ke atas manusia kemudian meninggalkan mereka misalnya Roh Allah meninggalkan Raja Saul (1 Samuel 16:14;18:12).

Beberapa Penyataan hakekat Tuhan Allah

  1. Tuhan Allah adalah Mahatinggi

Menurut Alkitab bahwa Tuhan Allah berada di tempat yang maha tinggi. Ketika Firman itu menjadi manusia (Yoh 1: 14) para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera  di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (Lukas 2: 14).

  1. Tuhan Allah tidak dapat dilihat

Oleh karena Tuhan itu Maha tinggi maka Ia tidak dapat dilihat manusia. Dalam kitab Keluaran 33: 20 Tuhan memperingatkan Musa bahwa Musa tidak akan tahan memandang wajah Allah karena tidak ada orang yang memandang Tuhan Allah dapat hidup. Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal  Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya (Yoh 1: 18).

  1. Tuhan Allah adalah kudus

Kekudusan Allah menunjukkan kelainanNya dengan manusia. Ia tidak dapat bersekutu dengan dosa. Maka kekudusan Allah menuntut kekudusan manusia. Mereka harus hidup kudus dengan menjauhkan diri dari segala dosa, dan harus mempersembahkan seluruh hidupnya bagi Tuhan

  1. Tuhan Allah adalah kekal

Dalam kitab Kejadian 21: 33 dan kitab-kitab lain juga disebutkan bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang kekal. Ungkapan kekal menunjuk kepada waktu yang panjang sejak dahulu hingga kini dan sampai selama-lamanya. Kitab Wahyu 1: 8 juga dikatakan bahwa Tuhan adalah Alfa dan Omega, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang. Kekekalan Tuhan Allah dinyatakan dalam Firman dan karyaNya yang terus-menerus menjawab dan menolong manusia dalam setiap zamannya. Allah tidak pernah menjadi lesu dan lemah karena keberadaanNya sudah lama. Dia ada sebagaimana Dia ada.

  1. Tuhan Allah tidak berubah.

Alkitab mengungkapkan bahwa Tuhan Allah adalah Allah yang tidak berubah atau Yang tetap Sama (bnd. Ibr 13: 8).

  1. Tuhan Allah adalah esa.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa Tuhan Allah adalah esa sebagaimana Allah sendiri yang menyatakan kepada bangsaNya Israel melalui Musa. Tuhan itu adalah satu yang walaupun orang beribadah kepadaNya di berbagai tempat dan waktu atau dimana saja Ia disembah.

Ada banyak sifat-sifat Allah yang disebutkan dalam Alkitab yang menunjukkan kepribadianNya sebagaimana Allah bertindak atas semesta alam ciptaanNya. Mengenal Tuhan haruslah berdasarkan penyataanNya sendiri melalui wahyu dan kitab suci Alkitab yang disuarakan dan dituliskan para nabi. Ada perbedaan yang signifikan dalam ajaran Alkitab tentang bagaimana manusia mengenal Allah misalnya: Abraham sebagai Bapa orang percaya, mengenal Tuhan Allah karena Allah sendiri yang memanggil dia bukan karena Abraham mencari Allah. Sebagaimana Musa juga mengenal Allah adalah karena Allah sendiri memanggil dia di bukit Horeb.

Akhirnya, kita boleh katakan bahwa: “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus (Roma 10: 17). Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Iman adalah jaminan atas segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kelihatan (Ibrani 11:1).