Tata Pelaksanaan

Pelaksanaan Diskusi Tematis 1 oleh pengurus komisariat dilaksanakan pada tanggal 17 November 2020, dengan tema “Krisis Pandemi dan Resesi Menghantui Perekonomian RI”. Kegiatan Diskusi Tematis ini dibawakan oleh Saudara Eko Listiyanto, MSE yang merupakan Wakil Direktur INDEF. Diskusi Tematis ini berlangsung dari pukul 14:13 WIB hingga pukul 16:05 WIB. Diskusi Tematis yang pertama ini dihadiri sebanyak 35 orang dilihat dari absensi yang diisi oleh peserta melalui Google Form yang telah dipersiapkan oleh pengurus komisariat. Peserta yang hadir terdiri dari pengurus komisariat sendiri, lalu anggota dan Senior GMKI FEB USU. Diskusi Tematis ini dimulai dengan pembukaan oleh moderator yaitu Oktavia Veronica Sinaga (Biro Pendidikan Kader), dimana moderator disini memimpin jalannya Diskusi mulai dari pembacaan CV Pemateri dan dilanjutkan dengan doa pembuka. Kemudian setelah selesai acara pembukaan, moderator memberikan kesempatan kepada pemateri yaitu Saudara Eko Listiyanto, MSE untuk memaparkan materi diskusi. Setelah pembicara selesai memberikan materi, kemudian moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab sebanyak 2 sesi dan 3 pertanyaan disetiap sesinya. Setelah selesai sesi tanya jawab, moderator menutup kegiatan diskusi dengan memberikan kesempatan kepada pembicara untuk memberikan Closing Statement, dan moderator menutupnya dengan memberikan kesimpulan serta doa penutup.

 

Krisis Pandemi dan Resesi Menghantui Perekonomian RI

      Semenjak dikeluarkannya pengumuman oleh Badan Pusat Statistik pada September kemarin, Indonesia resmi dinyatakan masuk kedalam jurang resesi karena sudah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang minus selama 2 kuartal yaitu kuartal II dan kuartal III. Hal ini menjadi suatu yang mengkhawatirkan bagi pemerintah dan masyarakat terlebih ditengah masa pemulihan Covid-19, dimana pemerintah tak hanya harus menangani permasalahan Covid-19 melainkan permasalahan resesi yang terjadi saat ini juga.

      Berkaitan dengan resesi, ada beberapa istilah yang dekat dengan kata resesi seperti Inflasi,  dimana terjadi kenaikan harga barang secara menyeluruh dan terus menerus. Inflasi ini bisa disebabkan oleh permintaan yang terus meningkat di masyarakat, lalu uang yang beredar dimasyarakat juga meningkat. Kemudian ada Deflasi, yaitu suatu keadaan dimana harga-harga barang kebutuhan mengalami penurunan yang disebabkan oleh beredarnya uang dimasyarakat berkurang. Lalu ada Depresi Ekonomi, yaitu keadaan dimana ekonomi mengalami resesi yang berkepanjangan dan mengakibatkan sektor ekonomi di sebuah negara melemah. Depresi juga bisa disebabkan oleh penurunan produksi barang dan meningkatnya angka pengangguran. Depresi skala besar, atau sering disebut Great Depression terjadi pada tahun 1930-an, dimana penurunan tingkat ekonomi di seluruh dunia sehingga menyebabkan penyusutan aktivitas ekonomi secara Global. Dan yang paling parah adalah Krisis Ekonomi, keadaan ini sangat parah karena pada situasi ini pemerintah sudah tidak dipercaya lagi oleh masyarakat atas keadaan merosotnya perekonomian dan Finansial sehingga menyebabkan dampak yang cukup besar. Krisis ekonomi ini pernah terjadi di Indonesia pada tahun 1998, dimana Indonesia mengalami Hyper Inflation sehingga berakibat pada krisis moneter dan kenaikan harga barang yang berkali-kali lipat.

      Masuk kepada pengertian Resesi, Resesi sendiri awalnya digaungkan oleh Julius Shiskin pada tahun 1974, dimana ia mengatakan bahwa resesi adalah keadaan pertumbuhan GDP yang minus pada 2 kuartal dalam 1 tahun. Resesi sendiri bisa disebabkan oleh produksi dan konsumsi yang tidak seimbang, pertumbuhan ekonomi yang melambat, terjadinya inflasi dan deflasi disebuah negara, dan pengangguran yang terus meningkat. Di Indonesia resesi juga mengakibatkan hampir setiap sektor mengalami perlambatan pertumbuhan. Berbicara resesi yang terjadi di Indonesia merujuk pada keadaan pandemi yang memang membatasi gerak masyarakat, serta penurunan kemampuan daya beli di masyarakat.

      Pada data yang diperlihatkan oleh Badan Pusat Statistik, menunjukkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II minus sebesar 5.32%. Namun menunjukkan perubahan yang baik di Kuartal III pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai meningkat ke minus 3.49%, hal ini memberikan harapan baik meskipun masih dalam keadaan minus, tetapi ada peningkatan sebesar 1.83%.

      Struktur lapangan pekerjaan juga mengalami perubahan. Pada sektor pertanian memang mengalami pertumbuhan yang tinggi, karena pada saat ini banyaknya terjadi PHK menyebabkan masyarakat mengalihkan pekerjaannya menjadi petani, dan memang pada sektor pertanian ini mobilitas masyarakat tidak terlalu padat dibanding sektor pekerjaan lainnya. Dan selain pertanian, perdagangan juga mengalami peningkatan. Pada dasarnya memang sektor yang besar penunjang perekonomian ialah perdagangan atau UMKM. Namun diawal pandemi kemarin, sektor UMKM mengalami penurunan yang sangat drastis karena pembatasan-pembatasan yang diberlakukan. Saat ini, untuk tetap terjaganya sektor UMKM, perlu dilakukan digitalisasi karena kekhawatiran orang untuk keluar rumah, sehingga mereka lebih memilih belanja pada e-commerce yang lebih simpel, hal ini menjadikan sektor UMKM harus lebih inovatif dan mampu beralih ke digital agar bisa bertahan.

      Berkurangnya lapangan pekerjaan pasca pandemi dan terjadinya resesi memberikan dampak yang sangat signifikan pada tenaga kerja. Dan memang untuk menunjang keberlangsungan perekonomian ditengah Resesi dan pandemi yang berperan besar adalah UMKM, Pertanian, dan Sektor Informal. Selain itu, Infokom juga mengalami peningkatan karena permintaan terhadap Internet juga meningkat sekarang ini. Pada keadaan resesi ini, terjadi kurangnya daya beli masyarakat disebabkan oleh kurang atau bahkan hilangnya pendapatan di masyarakat. Keadaaan seperti ini juga menjadikan masyarakat lebih memilih menabung uangnya di Bank ketimbang membelanjakannya, meskipun Bank sudah menurunkan suku bunga.

      Dari skala Global sendiri menurut OECD diperkirakan pada tahun 2020 ini perekonomian global akan tumbuh sebesar 4.5% dan di 2021 akan positif kembali di level 5%. Melihat keadaan sekarang ini, ada 2 bidang besar yang harus dipulihkan, yaitu kesehatan dan ekonomi. Dan memang keduanya memiliki perhatian lebih, namun pemerintah untuk menyelamatkan keduanya, dapat dengan melakukan pemulihan kesehatan terlebih dahulu, namun tidak melupakan keadaaan ekonomi yang harus diselamatkan. Karena pada dasarnya, pandemi juga merupakan akar masalah dari beragam sektor, sehingga kesehatan menjadi fokus utama dari proses pemulihan.

      Melihat dari sektor usaha, ada beberapa sektor usaha yang akan meningkat jika diberlakukannya kegiatan New Normal sebagai upaya pemulihan ekonomi seperti pertanian, jasa Delivery, Informasi dan Telekomunikasi, kesehatan, transportasi, bisnis digital, pariwisata dan administrasi pemerintahan. Namun ada juga sektor usaha yang moderat seperti, perbankan, pendidikan, manufaktur, asuransi, perdagangan, dan mall. Dan sektor usaha yang akan masih stagnan ialah otomotif, pertambangan, properti dan konstruksi, tempat hiburan dan penyedia elektronik.

      Tentu Resesi memiliki dampak seperti pendapatan masyarakat yang menurun bahkan hilang, pengangguran juga meningkat karena berkurangnya lapangan kerja, ketimpangan juga meningkat karena yang bertahan adalah mereka yang memiliki pendapatan, lalu resesi juga berakibat pada perlambatan pembangunan ekonomi.

Resesi juga hadir diakibatkan oleh Covid-19. Dampak Covid-19 terhadap perekonomian diantaranya adalah pada:

  1. Individu Rumah Tangga, mengakibatkan masyarakat kehilangan pekerjaan, kehilangan pendapatan, daya beli menurun, dan masalah pada segi kesehatan.
  2. Usaha Mikro, Kecil, Menengah, berakibat pada menurunnya aktivitas bisnis, angsuran bisnis tidak mampu dibayar, usaha ditutup bahkan bangkrut.
  3. Korporasi, berakibat pada menurunnya permintaan, produksi berkurang, karyawan banyak yang di PHK, kesulitan Cash Flow, dan restrukturisasi kredit.

      Melihat dampak dan pembatasan yang terjadi karena Pandemi dan Resesi, beberapa langkah yang bisa diterapkan pemerintah dan masyarakat seperti:

  1. Mengendalikan pandemi terlebih dahulu, karena pemulihan pandemi menjadi kunci untuk memulihkan ekonomi
  2. Kedisiplinan elemen masyarakat dalam melaksanakan protokol kesehatan.
  3. Pengembangan sektor UMKM yang lebih adaptif dan berbasis teknologi, atau digitalisasi bisnis untuk mendukung keberlangsungan siklus perdagangan.
  4. Mentransformasi ekonomi yang lebih produktif dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang digital.

 

5 1 vote
Article Rating