Oleh : Welton Hasibuan

Istilah diskriminasi adalah kata yang sudah tidak asing lagi untuk kita denhar di indonesia ini. Bahkan, sudah sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari dan sering diperbincangkan dalam media sosial ataupun media informasi. Lantas, sebelum berbicara tentang “Diskriminasi Gender”, apa yang dikatakan sebagai diskriminasi, dan apa itu gender.

Diskriminasi adalah perlakuan yang tidak adil dan tidak seimbang yang dilakukan untuk membedakan terhadap perorangan, atau kelompok, berdasarkan sesuatu, biasanya bersifat kategorial, atau atribut-atribut khas, seperti berdasarkan ras, suku, bangsa, agama, atau keanggotaan kelas-kelas sosial.

Sedangkan Istilah Gender digunakan untuk menjelaskan perbedaan peran perempuan dan laki-laki yang bersifat bawaan sebagai ciptaan Tuhan. Gender adalah pembedaan peran, kedudukan, tanggung jawab, dan pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan yang ditetapkan oleh masyarakat berdasarkan sifat perempuan dan laki-laki yang dianggap pantas menurut norma, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan masyarakat.

Gender tidak sama dengan kodrat. Kodrat adalah sesuatu yang ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga manusia tidak mampu untuk mengubah atau menolak.  Ketika berbicara soal pekerjaan, perempuan jauh tertinggal dari laki-laki. ILO menemukan bahwa kondisi ini hampir tidak berubah selama 27 tahun terakhir. Dikatakan kemungkinan perempuan mendapat pekerjaan 26 persen lebih kecil daripada laki-laki.

Dikatakan hal ini juga meluas ke pekerjaan perempuan dalam posisi tinggi. Data ILO menunjukkan secara global hanya seperempat manajer atau pemimpin adalah perempuan. Dikatakan bahwa perempuan yang berhasil mencapai posisi puncak cenderung satu tahun lebih muda dan mempunyai pendidikan lebih baik daripada rekan laki-laki mereka.

Pada zaman dahulu, perempuan hanya bisa bekerja di dapur dan hanya beraktifitas di luar dan di pasar saja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Hal tersebut terjadi pada saat indonesia masih dijajah oleh negara lain. Itulah yang menjadi pemikiran yang menggugah hati seorang pahlawan wanita untuk menaikkan harkat dan martabat kaum wanita untuk berkembang dan menyamakan kedudukan dengan laki-laki. Pemikiran yang menyatakan bahwa perempuan tidak dapat menyamai kedudukan laki dan hanya dimanfaatkan seperti seorang pembantu adalah pemikiran yang tidak maju. Ini adalah waktu kita merdeka; merdeka dari segala penindasan, merdeka dari segala pembedaaan, merdeka dari segala ancaman. Pola pikir kita juga  perlu merdeka, keluar dari segala keterpurukan pemikiran dulu yang tidak bersikap adil dalam masyarakat. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi dan mempunyai kedudukan yang sama untuk menguasai dan memelihara makhluk ciptaan Tuhan. Laki-laki dan perempuan diciptakan bukan untuk memerintah satu sama lain, tetapi untuk bersama melengkapi kekurangan dan kelebihan satu sama lain.