Pendidikan Di Masa Pandemi

Yoel Pakpahan, MNJ’16

           

        Mendengar kata “sekolah”, pada umumnya seseorang akan membayangkan suatu tempat di mana banyaknya manusia melewatkan sebagian dari masa hidupnya untuk belajar atau mengkaji sesuatu. Namun, tampaknya kalimat tersebut sudah tidak relevan dalam kehidupan saat ini. Seperti kalimat yang menyatakan bahwa “semua tempat adalah sekolah”, yang mendukung bahwa kalimat pertama pada tulisan ini sudah tidak relevan. Mengapa sekolah?

        Kita harus telisik lebih dalam mengenai makna sekolah itu sendiri, dalam bahasa aslinya yang berasal dari bahasa latin yakni kata skhole, scola, scolae atau schola (Latin), kata itu secara harafiah berarti “waktu luang” atau “waktu senggang”. Alkisah, orang Yunani tempo dulu biasanya mengisi waktu luang mereka dengan cara mengunjungi suatu tempat atau seseorang pandai tertentu untuk mempertanyakan dan mempelajari hal-ikhwal yang mereka rasakan memang perlu dan butuh untuk mereka ketahui. Mereka menyebut kegiatan itu dengan kata atau istilah skhole, scola, scolae atau schola. Keempatnya punya arti yang sama: ”waktu luang yang digunakan secara khusus untuk belajar” (leisure devoted to learning).

        Lama-kelamaan, kebiasaan mengisi waktu luang mempelajari sesuatu itu akhirnya tidak lagi semata-mata jadi kebiasaan kaum lelaki dewasa atau sang ayah dalam susunan keluarga pati masyarakat Yunani Kuno. Kebiasaan itu juga kemudian diberlakukan bagi para putra-putri mereka, terutama anak laki-laki, yang diharapkan nantinya dapat menjadi pengganti sang ayah. Namun, karena desakan perkembangan zaman yang terjadi dengan kian menyita waktu, tenaga, dan juga materil, mereka merasa bahwa mereka pun tak punya waktu untuk mengajarkan banyak hal kepada putra-putrinya. Karena itu mereka kemudian mengisi waktu luang dengan cara menyerahkan anak-anak mereka pada seseorang yang dianggap tahu atau pandai di suatu tempat tertentu yang kita sebut sekarang “sekolah”. Di tempat itulah mereka bisa bermain, berlatih melakukan sesuatu, belajar apa saja yang mereka anggap memang patut untuk dipelajari, sampai tiba saatnya kelak mereka harus pulang kembali ke rumah menjalankan kehidupan orang dewasa sebagaimana lazimnya.

        Mari kita bandingkan dengan sekolah pada masa ini, sekolah pada masa kini diyakini adalah tempat untuk mengenyam pendidikan, dimana para pelajar datang untuk belajar dari para pengajarnya. Terkhusus di Indonesia, seringkali ditemukan satu-satunya wadah untuk mendapatkan pendidikan yang layak hanya di sekolah. Padahal arti sekolah tersebut adalah waktu luang untuk belajar, tidak ada penekanan mengenai fisik atau tempat sama halnya dengan pendidikan itu sendiri, pendidikan bisa didapat darimana saja, kapan pun dan dimanapun. Pendidikan bisa didapat dari perjumpaan dengan orang lain, pengalaman/kebiasaan sehari-hari dan dengan cara melihat lingkungan sekitar tak peduli dimanapun tempatnya. Seperti contoh para petani yang mampu mengembangkan lahannya tanpa mempelajari jurnal ataupun penelitian-penelitian mengenai pertanian. Mereka mampu menjawab tantangan seperti hama dan perubahan iklim yang cepat melalui kebiasaan mereka. Ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya didapat dari sekolah, itulah sebabnya dikatakan “semua tempat adalah sekolah untuk belajar”.

        Dimasa pandemi ini, pendidikan di Indonesia dipaksa untuk mengalami percepatan, dipaksa untuk beradaptasi dan berinovasi secara terus-menerus, dengan keberadaan pandemi ini,  kita ditunjukkan bahwa pendidikan di indonesia masih sangat minim dan perlu perhatian lebih. Situasi pandemi yang ada sekarang tidak hanya dihadapi oleh Indonesia saja, sehingga pandemi ini mengubah kehidupan kita secara drastis. Untuk memutus rantai penyebaran covid, pemerintah memutuskan pembelajaran dilakukan secara jarak jauh atau disebut daring. Hal ini memaksa tenaga pengajar untuk lebih kreatif dan inovatif agar pembelajaran tetap tersampaikan dengan baik. Pandemi ini juga menunjukkan lubang besar yang ada di dunia pendidikan kita, seperti akses internet yang tidak merata, keterbatasan teknologi serta keterbatasan sumber daya manusia dalam menggunakan teknologi.

        Kondisi seperti ini sebenarnya bisa saja menjadi momentum untuk mewujudkan cita-cita “semua orang itu guru”, “alam raya sekolahku” seperti yang sering dinyanyikan para musisi berhaluan sosialis. Dengan sistem daring seharusnya materi-materi pembelajaran bisa diakses secara merata oleh semua masyarakat dari berbagai lapisan sosial. Pendidikan di masa sekarang harusnya menekankan pembelajaran terhadap etika, moral, nilai-nilai, dan karakter yang diseimbangkan dengan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki seorang individu. Pada zaman ini bukan hanya sekolah yang menjadi wadah belajar, namun banyak media pembelajaran, cara, metode serta wadah yang tak terhitung kapasitasnya yang akan menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Yang pada akhirnya filosofi “semua tempat adalah sekolah” dapat diartikan bahwa belajar tidak mengenal tempat tetapi berbicara tentang kebiasaan dan kemauan untuk belajar.

Opini.pdf (unduh)

4.7 3 votes
Article Rating