Momen sumpah pemuda bukanlah pemersatu, namun menjadi awal untuk saling mengenal di antara pemuda (sekarang Pemuda Indonesia). Pada saat itu (1928), Sumpah Pemuda memang bukan momen di mana para pemuda bergerak untuk bersatu, tetapi pemuda tergerak untuk bergerak bersama.

Momen Sumpah pemuda selalu disuarakan setiap tahunnya, terutama di bulan Oktober, terutama sekali di tanggal 28. Sumpah Pemuda adalah hasil dari bagaimana para pemuda membaca realitas pada masa itu. Oleh karena itu, Sumpah Pemuda berbicara tentang esensi di dalamnya, bukan sumpah pemudanya.

Sumpah Pemuda sudah 90 tahun usianya. Dahulu Hindia-Belanda, sekarang Indonesia. Dahulu jadoel, sekarang kekinian. Dahulu zaman super old, sekarang zaman now. Sekarang eranya pemuda milenial. Perubahan era sejak baby boomers (≥1945) muncul, lalu generasi X, generasi Y, hingga kini, yaitu era millenials. Semua mengalami perubahan mulai etika, budaya, selera, teknologi, dan unsur-unsur eksternal lainnya. Dari sini jelas kenyataannya bahwa pemuda saat 1928 berbeda jauh keadaannya dengan pemuda milenial.

Pada dasarnya, milenial adalah bagian dari kategorisasi menurut waktu kelahiran. Kategorisasi itu kemudian memunculkan sifat-sifat yang katanya adalah sifat asli pemuda masa ini: mudah bosan, individualis, fleksibel, tidak suka yang monoton, kreatif, dan sebagainya. Namun, konotasi umum milenial pada saat ini adalah negatif, di mana seolah milenial “tidak bisa membangun bangsa”. Mengapa? Karena sifat-sikap-perilaku umumnya adalah serba cepat dan bebas, dengan artian berbeda dengan sifat pemuda sebelum milenial (sekarang orang tua dan orang dewasa) yang tekun, teguh, dan berprinsip.

Pada dasarnya manusia tidak ingin dihakimi. Jika sudah disalahkan, akan terbentuk mental block pada orang yang disalahkan. Mental block ini membuat apa yang mereka perbuat setelah itu akan kerap dinilai salah atau tidak tepat. Ini terjadi pada pemuda era milenial. Apapun jenis pemudanya, semuanya tetaplah manusia.

Tidak dapat disangkal bahwa setiap sejarah yang ada di dunia memiliki pemuda yang berperan di dalamnya. Pemuda milenial termasuk berkontribusi dalam membuat sejarah. Mahasiswa, sebagiannya adalah pemuda milenial. Kita perlu objektif dalam memandang segala sesuatunya. Setidaknya, pandanglah pemuda di era milenial sebagai anak muda yang sama seperti anak muda di era lainnya, yang masa mudanya adalah mencari jati diri dan tujuan hidup dengan berkreasi dan belajar dari pengalaman.

Intinya, semua pemuda itu sama, yaitu orang yang masih kencang kulitnya dan “sedang aktif-aktifnya”. Sebagai mahasiswa, sudah sepatutnya pemuda milenial berkreasi dan menunjukkan jati dirinya, namun tidak merugikan orang lain, apalagi bangsa Indonesia. Kelas Baby Boomers, X Generations, Y Generations, Z Generations, dan Millenials hanyalah pemisahan menurut waktu. Bukan hanya pemuda milenial yang suka teknologi, generasi lain juga ada yang menyukainya. Bukan hanya pemuda generasi lain yang gemar membaca dan menulis, pemuda milenial juga menyukainya. Kita seringkali terpenjara oleh definisi, dan tidak menelaah sebuah definisi sampai ke “akarnya”.

Bukankah lebih baik sebagai manusia kita saling merangkul? Karena sebelum ada “kita”, perlu ada “aku-aku” yang saling merangkul. Membicarakan “aku” bukan keegoisan. Membicarakan “aku” adalah langkah pertama untuk mengenal diri. Dengan mengenal diri, akan muncul kebutuhan untuk membentuk “kita”.