TATA PELAKSANAAN

Pelaksanaan Diskusi Tematis III oleh pengurus komisariat dilaksanakan pada tanggal 24  Mei 2021, dengan tema “Polemik Ekspor dan Impor terhadap Ketahanan Pangan Nasional”. Kegiatan Diskusi Tematis III  ini dibawakan oleh saudara Fajar B. Hirawan yang merupakan seorang peneliti ekonomi dari CSIS.  Diskusi Tematis III ini berlangsung dari pukul 14:10 WIB hingga 15:45 WIB.  Diskusi Tematis III  ini dihadiri sebanyak 44 orang dilihat dari absensi yang diisi oleh peserta melalui Google Form yang telah dipersiapkan oleh pengurus komisariat. Peserta yang hadir terdiri dari pengurus komisariat sendiri, anggota GMKI FEB USU dan beberapa dari komisariat Kota Medan sejajaran. Diskusi Tematis III  ini dimulai dengan pembukaan oleh moderator yaitu Kartika Lubis ( Wakil ketua pendidikan kader dan kerohanian)  di mana moderator di sini memimpin jalannya Diskusi Tematis III  kemudian dilanjutkan dengan doa Pembuka oleh  Riris Simbolon (Wasek Organisasi dan Komunikasi), kemudian setelah selesai acara pembukaan, moderator memberikan kesempatan kepada pemateri saudara Fajar B. Hirawan untuk memaparkan materi Diskusi Tematis III.  Setelah pembicara selesai memberikan materi, kemudian moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab di mana terdapat 6 pertanyaan yang diajukan kepada pemateri. Setelah selesai sesi tanya jawab, moderator menutup kegiatan Diskusi Tematis III dengan memberikan kesempatan kepada pembicara untuk memberikan Closing Statement, dan moderator menutupnya dengan memberikan kesimpulan serta doa penutup yang dibawakan oleh Tesalonika Manurung (Maper 2017).

 

RESUME MATERI

A. Perkembangan Ekonomi di Indonesia

        Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga Triwulan I 2021, masih mengalami kontraksi sebesar -0,74 %, yang di mana konsumsi rumah tangga menjadi sektor pengeluaran terbesar. Daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya memberikan pengaruh besar terhadap petumbuhan ekonomi di Triwulan I 2021. Meskipun demikian, ekonomi Indonesia dapat dikatakan membaik jika dibandingkan dengan Triwulan sebelumnya pada 2020, pada Triwulan II 2020 minus 5,32 persen, pada Triwulan III minus 3,49 persen, dan minus 2,19 persen di Triwulan IV. Hal ini menjadi bukti bahwa adanya perbaikan ekonomi pada masa Pandemi Covid-19 ini.

        Berdasarkan statistik dari hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia juga menyatakan ada peningkatan indeks keyakinan konsumen hinga Maret 2021 yang kembali memasuki zona optimis. Hal tersebut tercermin dari IKK pada februari 2021 sebesar 85,8 %, meningkat hingga 93,4 % sebulan setelahnya yakni maret 2021.

        Sepanjang 2020, neraca perdagangan Indonesia memang mengalami surplus, namun jika dilihat dari struktur impor dan ekspornya masih tampak adanya trade – off di antara keduanya.

B. Identifikasi Isu Penting Terkait Ketahanan Pangan

Definisi

        Ketahanan pangan secara sederhana berbicara mengenai ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya. Dalam skala nasional, ketahanan pangan diartikan sebagai kemampuan suatu negara untuk mengusahakan dan menjamin seluruh masyarakatnya dapat memperoleh dan mengakses pangan, dengan kuantitas, mutu atau kualitas yang baik didasarkan pada optimalisasi sumber daya yang ada. Jadi, ketahanan pangan tidak hanya berbicara mengenai ketersediaan dari pangan itu sendiri, tetapi juga tentang aksebilitas dan distribusi pangan.

        Untuk memahami dengan benar pengertian dari ketahanan pangan ini sendiri, ada sebuah model yang dapat digunakan, yakni :

  1. Ketersediaan (food availability)
    yaitu ketersediaan pangan dalam jumlah yang cukup aman dan bergizi untuk semua orang dalam suatu  negara baik yang berasal dari produksi sendiri, impor, cadangan pangan maupun bantuan pangan. Ketersediaan pangan  ini harus mampu mencukupi pangan  yang  didefinisikan  sebagai  jumlah  kalori  yang  dibutuhkan  untuk kehidupan  yang  aktif  dan 
  2. Akses pangan (food access)
    yaitu  kemampuan semua rumah tangga  dan individu dengan sumber daya yang dimilikinya untuk memperoleh pangan yang  cukup untuk kebutuhan gizinya yang dapat diperoleh  dari produksi pangannya sendiri, pembelian ataupun melalui bantuan pangan.  Akses rumah tangga dan  individu terdiri dari akses ekonomi, fisik dan sosial. Akses ekonomi tergantung pada  pendapatan, kesempatan kerja dan harga. Akses fisik menyangkut tingkat isolasi daerah (sarana dan prasarana distribusi), sedangkan akses sosial menyangkut tentang preferensi pangan.
     
  3. Penyerapan pangan (food utilization)
    yaitu penggunaan pangan untuk kebutuhan hidup sehat yang meliputi kebutuhan energi dan gizi, air dan kesehatan lingkungan. Efektivitas dari penyerapan pangan tergantung pada pengetahuan rumah tangga/individu, sanitasi dan ketersediaan air, fasilitas dan layanan kesehatan, serta penyuluhan gizi dan pemeliharaan balita.
  4. Stabilitas pangan (food stability)
    adalah keadaan pangan yang stabil tanpa adanya pengaruh kekurangan atau kelebihan pangan sehingga masyarakat bias mengkonsumsinya secara terus-menerus.

 

Optimalisasi Sumber Daya

Industri pengolahan, sektor pertanian dan dan perdangangan menjadi sekto yang paling berpengaruh terhadap perekonomian dan juga terhadap ketahanan pangan nasional.


Dalam pengoptimalan sumber daya yang ada demi ketahanan pangan nasional, ada beberapa faktor yang harus diperhatikan, yang terbagi menjadi faktor internal dan faktor eksternal.

  • Internal : Produktivitas Pertanian, SDA, Logistik, dan Teknologi
    Produktivitas pertanian merupakan sumber bagi pertumbuhan di sektor Pertanian Adapun peningkatan produksi penggunaan teknologi pertanian pertanian dapat sehingga dicapai dengan memungkinkan tercapainya peningkatan produksi dari faktor produksi yang tetap. Dengan demikian pengembangan teknologi pertanian merupakan suatu langkah yang strategis bagi peningkatan produktivitas pertanian. 
  • Eksternal : Kerja sama Internasional.

 

Ketersediaan

Food Estate
Food estate merupakan konsep pengembangan pangan yang dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan bahkan peternakan di suatu kawasan.

  • Program Food Estate sudah berulang kali dilaksanakan dan mengalami kegagalan karena tidak berhasil mengefektifkan penggunaan lahan dan tidak menghasilkan produksi panen yang tinggi. 
  • Sejumlah contoh kegagalan food estate adalah pada era Soeharto, yakni Program Food Estate PLG (Pengembangan Lahan Gambut), Kalteng (1996) dan pada era SBY, yakni Program Food Estate Bulungan, Kalimantan Timur (2011); Program Merauke Integrated Food and Energy Estate, Papua (2011); dan Program Food Estate Ketapang, Kalimantan Barat (2013). 
  • WRI Indonesia memberikan alasan mengapa Food Estate tidak menjawab tantangan perwujudan ketahanan pangan :
    – Tidak menyentuh permasalahan distribusi pangan.
    – Tidak menjawab masalah akses terhadap pangan yang sehat.
    – Memiliki risiko/dampak terhadap sektor lain, seperti lingkungan, ekonomi dan kesehatan.

 

Perdagangan

        Mankiw (2008) menyebutkan bahwa perdagangan dapat membuat semua orang menjadi lebih baik dan secara khusus menyatakan bahwa “perdagangan memungkinkan setiap orang untuk mengkhususkan diri dalam kegiatan yang paling dia lakukan dan dengan berdagang dengan orang lain, orang memiliki akses ke lebih banyak variasi barang atau jasa.”

  • Meskipun dalam praktiknya segala bentuk perjanjian perdagangan bisa sulit dilaksanakan karena beberapa hambatan, terutama hambatan non tarif, namun inisiatif perjanjian perdagangan adalah awal terbaik untuk melaksanakan kegiatan perdagangan yang saling menguntungkan antar negara atau antar negara.
  • Agenda politik telah mendorong pola pikir masyarakat untuk lebih nasionalis dan protektif dalam menyikapi isu pertanian dan perdagangan pangan. Kebangkitan nasionalisme terkadang mendistorsi efektivitas perdagangan, terutama perdagangan komoditas pertanian.
  • Swasembada pangan, kedaulatan pangan dan proteksionisme serta kepekaan politik merupakan beberapa hal yang harus ditangani dengan baik ketika suatu negara berhadapan dengan perdagangan pangan dan pertanian.

 

Logistik

Logistik adalah “ backbone ” dalam sektor perindustrian dan perdagangan. • Sistem logistik yang baik dapat menurunkan biaya perdagangan dan mendorong suatu negara untuk memiliki daya saing di pasar global. Logistik yang baik juga diperlukan untuk mendukung rantai pasok yang lebih efisien. Bagi negara berkembang, perbaikan sistem logistik berarti meningkatkan kualitas infrastruktur, kepabeanan, kapasitas SDM, dan regulasi.

  • Berdasarkan data LPI 2018, Jepang adalah negara Asia satusatunya yang memiliki kinerja baik dalam sistem logistiknya.
  • Dari beberapa negara berpendapatan menengah ke bawah, Indonesia sebenarnya menjadi salah satu negara yang memiliki perkembangan positif dalam sistem logistiknya.
  • Tiga (3) hal utama yang perlu menjadi perhatian bagi negara berkembang ke depan, antara lain kapasitas SDM ( labor skills ), logistik yang ramah lingkungan, serta antisipasi ancaman siber.

 

Logistics Performance Index ASEAN Member Countries 2010-2018

 

Strategi ke depan

Permasalahan ketahanan pangan begitu kompleks, maka dari itu harus dipastikan konsep/definisi terkait ketahanan pangan sudah tepat.

  • Ketahanan pangan bukan hanya terkait dengan ketersediaan, akan tetapi terkait beberapa pilar lain. Jadi, ekspor dan impor merupakan salah satu cara memenuhi terwujudnya ketahanan pangan.
  • Optimalisasi sumber daya yang tersedia di dalam negeri dengan selalu meningkatkan kapasitasnya secara berkelanjutan.
  • Perbaikan infrastruktur, khususnya terkait dengan isu transportasi dan logistik, tampaknya menjadi kunci untuk memperbaiki distribusi pangan di Indonesia.

 

C. Sesi Tanya Jawab

  • Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dan ditekankan untuk menjaga kestabilan harga komoditas pertanian. Infrastruktur, seperti Teknologi memegang peranan yang sangat penting dalam kesejahteraan pertanian. Start up, situs, atau aplikasi tertentu yang berhubungan, akan sangat membantu para petani agar terhubung ke pasar dan konsumen, untuk kemudian bisa menyesuaikan diri dengan kondisi pasar dan menghindari terjadinya permainan harga di pasar oleh para oknum tertentu, seperti distributor yang menyebabkan harga yang sampai kepada konsumen lebih mahal. Kemudian, peningkatan kapasitas Sumber daya di bidang pertanian itu sendiri, dengan adanya program semacam pelatihan atau sosialisasi terhadap para petani maka akan meningkatan pemahaman dan ketrampilan petani dalam mengolah lahannya, yang juga secara langsung akan berdampak positif terhadap produktivitas, pendapatan dan kualitas mereka sebagai sumber daya manusia dalam sektor pertanian. 
  • Di tengah pandemi, produksi pertanian sebenarnya hampir tidak memiliki masalah. Masalah utamanya terletak dalam hal distribusi, di mana adanya batasan mobilitas, seperti kebijakan PSBB, PPKM,dll yang mengganggu arus distribusi pangan. Perlu ada penegasan berupa kejelasan, di mana komoditas pangan haruslah selalu diberi kebebasan untuk bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Sedangkan untuk Ekspor, impor sendiri pada masa Pandemi pasti ada pembatasan kegiatan ini. Namun, negara kita sendiri baru-baru ini sedang mengalami panen raya (pertanian), yang harusnya stok dari panen tersebut dapat mencukupi kebutuhan pangan negara. Tinggal, bagaimana pendistribusian logistik tersebut agar merata dan sesuai dengan waktunya tersebar ke seluruh wilayah di Indonesia. 
  • Ketahanan pangan punya peranan yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara, sesuai statistik sektor pertanian selalu menjadi 3 besar sebagai penyumbang pendapatan nasional atau PDB. Ketahanan dan ketersediaan pangan yang baik akan meningkatkan konsumsi rumah tangga, yang berarti terjadinya peningkatan transaksi. Nah, jika tingkat beli masyarakat meningkat maka ada indikasi meningkatnya perekonomian suatu negara. 
  • Indonesia adalah negara kepulauan, sehingga menjadi tantangan yang ekstra lagi bagi negara untuk menjamin distibusi pangan ke seluruh daerah. Sehingga, jika terjadi ketertinggalan di suatu daerah, salah satu faktor utamanya adalah ketidakmerataan pembangunan dan pendisribusian karena kurangnya aksebilitas yang ada dalam suatu daerah, apalagi dalam negara yang tidak bisa memproduksi kebutuhan pangannya sendiri. Sehingga, pada masa sekarang pemerintah berfokus pada peningkatan aksebilitas dalam negara, antar pulau, agar terjadi pemerataan dalam pembangunan dan pendistribusian agar setiap daerah dapat berkembang. Contohnya, seperti proyek nasional skala besar yang tengah dilakukan, seperti pembangunan jalan tol Trans-Sumatera, dan lain sebagainya. Mobilitas yang baik, akan kemudian meningkatkan pendapatan dan perekonomian negara. 
  • Berdasarkan panen raya yang terjadi baru-baru ini dan juga stok beras yang ada di BULOG, seharusnya itu bisa memenuhi kebutuhan pangan Indonesia akan beras khususnya dalam 3 bulan ke depan. Penyebab polemik impor beras 1 juta ton yang akhit-akhir ini hangat dibicarakan adalah karena adanya miss komunikasi antara pihak terkait, sehingga timbul kebijakan berupa masukan yang menimbulkan pro-kontra di publik. Hal ini sebenarnya, secara langsung mempertanyakan kredibilitas pemerintah, khususnya antara kementerian yang terkait (pertanian,perdagangan) dan juga Bulog. Agar berkomunikasi berdasarkan data, sehingga kemudian tidak menciptakan suatu hal yang dipertanyakan oleh publik secara ramai. Impor bukanlah hal yang bermakna negatif, tetapi adalah solusi terakhir untuk mengatasi masalah pangan.

 

D. Kesimpulan dan Clossing Statement Diskusi

Moderator :

        Kegiatan Ekspor Impor merupakan suatu kegiatan yang dilakukan sebagai wujud dari perekonomian itu sendiri yang kembali lagi tujuan utamanya untuk kesejahteraan dalam negara, terkhususnya dalam hal pangan. Impor khususnya bukanlah suatu kebijakan yang dipandang langsung bermakna negatif 100%, tetapi adala suatu langkah terakhir yang bisa dilakukan untuk mengatasi permasalahan atau kekurangan pasokan atau logistik dalam negara. Polemik ekspor-impor sendiri adalah suatu permasalahan yang harus ditelaah secara kristis dan mengindentifikasi masalah berdasarkan data dan fakta yang ada.

Pemateri :

        Dalam menanggapi segala isu, polemik ataupun peristiwa yang terjadi dalam skala nasional khususnya, sperti perekonomian, ekspor impor diperlukan telaah kritis dan berdasarkan data atau fakta yang ada. Kemudian, bisa dituliskan dalam sebuah tulisan untuk diterbitkan ke media agar dapat senantiasa mengedukasi khalayak masyarakat akan suatu masalah yang tengah terjadi agar menghindari hal-hal atau pemahaman yang keliru di tengah masyarakat.

 

0 0 vote
Article Rating