NATAL YANG DI RINDUKAN

(Yohanes  1 : 14-18)

Oleh : Suster Valentin C Silitonga

 

 (1:14) Firman itu telah menjadi manusia ,  dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia  dan kebenaran.  (1:15) Yohanes memberi kesaksian  tentang Dia dan berseru, katanya: “Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.  ” (1:16) Karena dari kepenuhan-Nya  kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; b  (1:17) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran  datang oleh Yesus Kristus.   (1:18) Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah;  tetapi Anak Tunggal  Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.

Shalom saudara/saudari yang di kasihi Tuhan. Tidak terasa kita sudah memasuki bulan di penghujung tahun 2020 ini. Sebentar lagi kita akan merayakan hari natal, yang setiap tahun dirayakan oleh umat kristiani. Mulai dari kaum lansia, orang tua, muda bahkan anak-anak semua ikut merayakan euforia natal.

Natal adalah sebuah liburan yang bersifat paradoks dengan dipenuhi oleh sukacita yang sedemikian besar, tetapi pada saat yang sama mengingatkan kita pada besarnya rasa kehilangan. Kristus telah datang untuk mati. Tampaknya pernyataan itu sudah sering kita dengar, tetapi mungkin tidak terlalu meresap ke dalam hati kita. Jika sudah, mungkin kita tidak akan merayakan Natal dalam cara-cara yang sekarang justru mengemuka di gereja-gereja maupun komunitas kristiani. Jika bersedia, mungkin kita akan lebih memaknai Natal dengan rasa syukur dan perasaan kasih yang lebih besar kepada Allah. Lalu, mungkin kita akan lebih memuliakan Allah dalam tindakan kita daripada sibuk menghias rumah, mencari hadiah, membeli baju atau sepatu baru, atau memikirkan kue apa yang akan kita buat atau beli pada tahun ini.

Bagi sebagian orang, makna hari Natal adalah hari libur menjelang akhir tahun. Bagi beberapa umat, ini berarti kesempatan bersenang-senang, bahkan berpesta-pora. Bagi yang lain lagi, inilah kesempatan untuk mengeruk keuntungan bisnis sebesar-besarnya dengan menempelkan label Natal pada apa saja yang mereka perdagangkan. Dan, Natal adalah kesempatan untuk bertemu-kangen dengan keluarga dan kerabat, entah di sekitaran rumah ataupun di gereja. Jika benar, itu terjadi di sekitar kita adalah hal yang sungguh menyedihkan, karena ini berarti kedatangan Yesus justru tidak terasa dampaknya bagi kita. Tanpa kita sadari, sesungguhnya sudah lama kehilangan makna dari natal. Kita sudah lama menyalahgunakan arti dari kata Natal. Ketika mendengarkan adanya natal, hal pertama kali yang ada dibenak ialah liburan, membeli perlengkapan fashion baru, pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga kita di rumah. Natal menjadi ajang pamer bagi kita untuk membanggakan diri sendiri dengan semua kemewahan yang di miliki.

Setiap orang melihat Natal sebagai peringatan hari kelahiran Tuhan Yesus, walaupun sesungguhnya tidak ada yang tahu pasti akan kapan Tuhan Yesus dilahirkan. Saya pernah mendengar, bahwa kita perlu untuk melihat perayaan Natal dalam konteks yang utuh dengan perayaan Paskah dan bahwa keduanya tidak dapat dilepaskan satu dari yang lainnya. Natal ada untuk paskah dan paskah ada untuk menyelesaikan natal. Natal dan paskah merupakan perwujudan nyata dari kasih Allah kepada dunia (manusia) dan merupakan penggenapan dari segala nubuat yang telah ada di kitab Perjanjian Lama. Natal dan paskah merupakan proses di mana Tuhan turun menjadi sama dengan kita manusia, dan mengambil alih segala permasalahan dan tanggung jawab dosa kita, serta menebus itu sepenuhnya. Semuanya telah lunas dibayar. Suatu hal yang tidak akan pernah dapat kita (manusia) lakukan ialah, seperti Alkitab mengatakan di dalam Efesus 2:8-9 “(8) “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,(9) itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”

Pernahkah membayangkan seandainya suatu saat listrik di rumah kita mati dan pasokan gas habis, sehingga kita harus memakai lilin sebagai penerangan di malam hari dan memakai kompor minyak tanah untuk memasak. Hingga kita harus melakukannya sendiri, karena tidak ada yang membantu di rumah. Pasti kita akan merasa sangat sengsara dan tidak merasa nyaman. Memang, salah satu hal yang paling sulit untuk kita lakukan adalah menurunkan standar hidup kita. Sangat jarang di antara kita yang mau melakukannya, bahkan juga untuk suatu alasan yang mulia. Saya ambil contoh sederhana: bersediakah kita untuk tidak pakai pendingin udara lagi (di rumah atau di gereja) supaya kita ikut menghemat energi yang sekarang sedang krisis di Negara kita? Pasti kita tidak mudah untuk bersedia. Akan tetapi, dalam skala yang jauh lebih besar (sampai di luar akal pikiran kita manusia), justru inilah yang dilakukan oleh Tuhan Yesus bagi kita. Dia melepaskan segala kemuliaan-Nya untuk turun ke dunia ini menjadi seorang hamba yang disalibkan, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat diselamatkan. Jika Tuhan Yesus Kristus rela mati di kayu salib untuk menyelamatkan hidup kita dari genggaman dosa Lantas, apa yang sudah kita perbuat untuk membalas itu semua? Pasti nya kita tidak akan pernah bisa membalas kebaikan yang sudah diterima dariNya. Bahkan, hidup kita ini semua adalah milikNya.

Saudara saudari, apa yang sebenarnya kita rindukan di momen natal ini? dan taukah kita jika Tuhan juga rindu kepada kita? Tuhan rindu agar kita bersekutu denganNya, mengikuti semua ketetapan yang sudah Ia perintahkan, menegakkan keadilan dan menjadi berkat serta kebaikan di tengah-tengah dunia ini. Jika dahulu kita merayakan natal hanya untuk hal duniawi, mari di momen natal kali ini kita sungguh untuk merenungkan bahwa perayaan natal itu adalah lahirnya Tuhan Yesus untuk menanggung segala dosa dan perbuatan kita, agar kita setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohannes 3 : 16)

Inilah makna Natal yang sesungguhnya, pengorbanan yang luar biasa dengan kedatangan-Nya telah mengubah hidup kita dari hidup yang berhamba kepada dosa, menjadi hidup yang merdeka di dalam Kristus. Roma 6:11 mengatakan“Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” Jadi, memang sudah seharusnya kita menjadikan hari Natal sebagai momentum bagi perubahan dalam hidup ini dan tidak hanya sekadar perayaan dan bulan keagamaan yang bersifat sementara saja. Karena jika kita benar-benar telah menerima kedatangan Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi, maka hal tersebut harus terlihat dan tercermin dalam kehidupan kita sehari-hari.

Saudara saudariku, selamat menyambut natal untuk kita semua. Biarlah damai natal yang akan selalu menerangi hidup kita di dalam keluarga, masyarakat dan persekutuan kita disaat yang tepat dan di waktu yang tepat karena waktu Tuhan pasti yang terbaik.

”Christmas is not a time nor a season, but a state of mind. To cherish peace and goodwill, to be plenteous in mercy, is to have the real spirit of Christmas”

 

0 0 vote
Article Rating