Diskusi dengan judul “Generasi Milenial: Optimisme Menghadapi Bonus Demografi di Indonesia” merupakan program ketiga dari Divisi Diskusi pada Semester A Campus Concern FEB USU. Dalam diskusi ini, Campus Concern berkolaborasi dengan GMKI FEB USU. Tujuan kolaborasi ini adalah untuk menjalin serta membangun komunikasi yang baik antara Campus Concern dan GMKI FEB USU, dan meningkatkan kualitas diskusi. Adapun sasaran kualitas dari program ini yaitu AKK mengetahui keadaan bonus demografi yang terjadi di Indonesia dan AKK dimotivasi untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi. Diskusi dilaksanakan pada Jumat, 05 April 2019 pukul 13.30 WIB di ruang GBR 113. MC pada diskusi ini adalah Afni Debora Damanik (Manajemen angkatan 2015) dan gitaris adalah Simon Veron (Akuntansi angkatan 2017). Moderator pada diskusi ini adalah Josua Putrada Sianipar (Ekonomi Pembangunan stambuk 2016), dan pemateri yaitu Drs. Coki Ahmad Syahwier, MP.

Sebelum diskusi dimulai, peserta diskusi diberikan bahan materi berupa fotocopy tayangan slide pemateri. Lalu, diskusi dimulai dengan nyanyian dan mazmur dari MC, kemudian dilanjutkan ke sesi diskusi yang dibawakan oleh Moderator. Kemudian, Moderator membagi peserta diskusi menjadi lima kelompok agar peserta diskusi dapat membahas topik diskusi bersama-sama dalam kelompok. Pembagian kelompok dilakukan di awal diskusi sembari menunggu Pemateri yang berhalangan untuk hadir tepat waktu.

Pemateri mulai memaparkan materinya pada pukul 14:07 WIB. Beliau menjelaskan terlebih dahulu evolusi kependudukan secara global pasca Perang Dunia II, yaitu di era 1940-an ketika Amerika Serikat membombardir Jepang. Perkembangan IPTEK dewasa ini membuat perubahan drastic, terlihat dengan semakin bertambahnya jumlah populasi penduduk dunia. Perkembangan IPTEK ini dari waktu ke waktu semakin merata di berbagai negara di dunia sehingga menciptakan Sumber Daya Manusia yang terampil dan berkeahlian. Sementara, pertumbuhan penduduk juga relatif meningkat, yang juga meningkatkan pertumbuhan masyarakat di usia muda.

Potret generasi muda terbagi dua. Di satu sisi, terdapat generasi muda yang menyadari pentingnya IPTEK, sedangkan di sisi lain terdapat generasi muda yang kurang peduli pada IPTEK. Generasi muda atau yang disebut dengan istilah “milenial” merupakan generasi Y yang lahir pada era 1980-an, 1990-an, atau 2000-an. Secara alamiah diperkirakan dalam waktu dekat akan terjadi transformasi struktural kependudukan yang menggambarkan perpindahan komposisi yang akan didominasi oleh penduduk usia produktif, yang diisi oleh generasi milenial. Transformasi struktural akan membawa konsekuensi logis berupa perubahan peradaban dan gaya hidup. Perubahan terjadi pada sektor ekonomi, yaitu sektor produksi, konsumsi, dan distribusi. Generasi muda harus mampu mengikuti transformasi tersebut mengingat generasi muda berada dalam kondisi produktif di tengah jumlah penduduk yang semakin terus melonjak naik. Istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi kependudukan tersebut adalah “bonus demografi”.

Bonus demografi adalah kondisi jumlah penduduk suatu negara yang didominasi penduduk usia produktif (15 tahun sampai 65 tahun) dibanding dengan usia non-produktif.  Diperkirakan komposisi penduduk usia produktif akan mencapai 70% sedangkan penduduk usia non-produktif sebesar 30%. Kondisi ini membentuk suatu pola kependudukan berbentuk piramida terbalik. Bonus demografi bisa menjadi peluang yang baik dan dapat pula menjadi petaka bagi negara apabila negara tidak dapat mengelola Sumber Daya Manusia dengan baik. Jika negara mampu mengelola Sumber Daya Manusia yang berkeahlian, maka penduduk akan mendapatkan pekerjaan dengan keahliannya dan akan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun jika negara tidak mampu menjadikan Sumber Daya Manusia sebagai pelaku utama dalam proses pembangunan, maka kesempatan dalam bonus demografi ini gagal dimanfaatkan, dan akan menimbulkan persoalan seperti pengangguran dan sejenisnya. Generasi milenial harus memiliki strategi dan terobosan yang efektif untuk memanfaatkan pasar tenaga kerja yang makin terbuka seiring meningkatnya produksi dan daya beli masyarakat. Bagi pemerintah, bonus demografi harus dimanfaatkan dengan kebijakan dan program yang efektif.

Di era Industri 4.0 saat ini, generasi milenial yang termasuk ke dalam usia produktif harus mempersiapkan diri menghadapi tantang zaman yang semakin cepat dan kompleks. Banyak permasalahan yang terjadi seperti, upstream dan midstream yang kurang berkembang, potensi geografis yang kurang dimanfaatkan, pelaku ekonomi khususnya UMKM yang masih tertinggal, infrastruktur digital yang kurang memadai, tenaga kerja yang banyak tapi tidak terlatih, dan lain-lain. Untuk mengatasi berbagai permasalahan, perlu dilakukan kolaborasi penyiapan tenaga kerja sepert: pendidikan vokasi industry, pembangunan politeknik/akademi di kawasan industri, pembangunan link and match SMK dan industri, pendidikan dan pelatihan sistem 3 in 1, dan sertifikasi kompetensi.

Setelah Pemateri selesai memaparkan materi, Moderator mengambil alih diskusi dan mengarahkan peserta untuk berdiskusi dalam kelompoknya masing-masing untuk membahas materi yang dipaparkan dan merumuskan pertanyaan yang akan diajukan kepada pemateri. Moderator kemudian mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan dari tiap kelompok. Pertanyaan Kelompok 1 yaitu “Apa yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas mahasiswa di perguruan tinggi untuk menghadapi MEA? Hal apa saja yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi bonus demografi?”. Pertanyaan Kelompok 2 yaitu “Sektor apa yang lebih dahulu dioptimalkan untuk menghadapi tantangan bonus demografi?”. Pertanyaan Kelompok 4 yaitu “Bagaimana tanggapan pemateri tentang perusahaan startup yang sedang dalam pengembangan teknologi chip yang dapat ditanamkan di otak manusia? Apakah dapat diterapkan di Indonesia?”. Pertanyaan Kelompok 5 yaitu “Akankah budaya atau peradaban masih bertahan atau malah akan hancur dengan adanya perkembangan teknologi pada Industri 4.0? Dapatkah kemampuan manusia dapat bertahan atau malah akan digantikan oleh teknologi atau mesin?”

Setelah pertanyaan terkumpul, Moderator mempersilahkan Pemateri menjawab pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaan Kelompok 1, Pemateri menyampaikan bahwa MEA adalah integrasi ekonomi ASEAN untuk menghadapi perdagangan bebas dan diharapkan mampu memenangkan kompetisi pasar dunia. Perguruan tinggi tampaknya lebih berbasis teori dan buku. Maka dari itu, penting bagi perguruan tinggi untuk melakukan program pendidikan yang berbasis praktikum dan problem solving, sehingga mahasiswa memiliki bekal kemampuan dan keahlian. Untuk menghadapi MEA, mahasiswa perlu melakukan persiapan-persiapan, misalnya membiasakan diri memecahkan suatu masalah secara individu atau kelompok, meningkatkan kualitas diri dan melihat peluang, ikut serta dalam program magang, dan meningkatkan personality, skill dan networking.  Untuk pertanyaan Kelompok 2, sektor utama yang perlu dioptimalkan adalah pembanguan dalam sektor Sumber Daya Manusia. Strategi utama mengoptimalkan kondisi bonus demografi adalah dengan memperbaiki kualitas pendidikan yang berstandar kompetensi.  Untuk pertanyaan Kelompok 4, menurut Pemateri teknologi chip dapat diterapkan di Indonesia, karena akan meningkatkan produktifitas penduduk dan akan semakin memunculkan ide maupun inovasi produk yang baru dari sebelumnya. Untuk pertanyaan Kelompok 5, Pemateri berkata bahwa aktivitas manusia sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain menjadi dasar terbentuknya kebudayaan dan peradaban, sehingga tidak mungkin kebudayaan dan peradaban akan terhapuskan. Manusia adalah makhluk yang memiliki perasaan, dan ukuran perasaan tidak akan bisa tergantikan oleh teknologi. Teknologi ada bukan untuk menghancurkan peradaban dan kebudayaan tetapi untuk mempermudah dan mendukungnya. Profesi yang ‘terancam’ di Industri 4.0 seperti akuntan harus diatasi dengan mengedepankan pendidikan etika dan kejujuran, tidak cukup hanya pendidikan teori, sehingga pekerjaan akuntan tidak akan hilang digantikan teknologi.

Setelah semua pertanyaan dijawab oleh pemateri, maka diskusi pun berakhir. Moderator mengalihkan forum kepada MC. Peserta diminta mengisi kuesioner yang diperoleh untuk menjadi indikator dalam pengukuran sasaran kualitas program ini. Selanjutnya, MC mengambil alih forum dan menutup diskusi dengan bernyanyi lagu pujian dan berdoa. Setelah itu, pengurus melakukan evaluasi bersama setelah peserta meninggalkan ruangan. Sasaran kuantitas yang diharapkan adalah 36 AKK, dan peserta yang hadir adalah 66 orang (52 AKK dan 14 non-AKK), sehingga hasil yang diharapkan secara kuantitas tercapai. Divisi Diskusi Campus Concern FEB berharap AKK semakin diisi dan terbeban untuk selalu hadir dalam program Diskusi Campus Concern FEB USU.