Kodrat seorang manusia sejak dilahirkan adalah homo socius, dimana ia tiak bisa hidup sendiri. Manusia sebagai individu perorangan, cenderung senang untuk berkumpul dan menjalani kehidupan dengan orang lain disuatu kawasan yang ia anggap sesuai dengan dirinya. Hal inilah yang menjadi permulaan sebuah masyarakat terbentuk. Lambat laun, masyarakat tersebut berkembang di lingkungan sosial membentuk sebuah tatanan kehidupan dan kebudayaan yang secara langsung dapat mempengaruhi tingkah laku individu-individu di dalamnya untuk menyesuaikan keadaan dirinya dengan mayoritas orang lain di dalam masyarakat tersebut.

Kondisi sosial masyarakat negara Indonesia dapat dilihat dari beberapa aspek, dua diantaranya adlah aspek sosial dan aspek budaya. Aspek sosial dan budaya biasa ditulis secara bersama-sama walaupun secara konseptual masing-masing sebenarnya memiliki makna yang berbeda. Aspek sosial meyangkut masyarakat, yang berarti mengacu pada orang-orangnya, sedangkan aspek budaya menyangkut kebudayaannya, Namun pada kenyataannya masyarakat tidak pernah terpisah dengan aspek budaya.

Manusia mengembangkan kebudayaan adalah upaya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam menghadapi berbagai tantangan yang muncul di dalam lingkungan. Kebudayaan merupakan wujud tanggapan aktif terhadap tantangan yang datang dari lingkungannya. Aspek sosial lebih mengacu pada masalah struktur sosial dan pola hubungan sosial yang ada di dalamnya.

Struktur sosial masyarakat di Indonesia di tandai oleh dua ciri yang bersifat unik. Secara horisontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan perbedaan dalam bidang agama, rasa, suku-bangsa, adat istiadat, serta perbedaan kedaerahan. Secara vertikal struktur masyarakat Indonesia tersusun atas lapisan bawah dan lapisan atas berdasarkan peranan sosialnya yang cukup tajam.

Pelapisan sosial tersebut berkaitan dengan berbagai aspek. Dari aspek politik ada pemegang kekuasaan (elite) dan rakyat biasa (massa). Dari aspek ekonomi ada kelompok masyarakat kaya, ekonomi menengah, dan masyarakat miskin. Dari Perbedaan pada beberapa aspek itulah yang akhirrnya menimbulkan pelapisan sosial di dalam masyarakat.

Perbedaan sosial baik secara vertikal maupun horisontal pada akhirnya harus juga dilihat sebagai perbedaan kepentingan yang akan membuka kemungkinan terjadinya benturan antar keompok yang mengganggu ketahanan nasional. Oleh karena itu maka persoalan yang timbul dari struktur masyarakat Indonesia yang demikian adalah bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi pada tingkat nasional sehingga menunjang penciptaan pertahanan keamanan nasional yang mantap. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pemerintah yang dapat melayani serta mengendalikan berbagai kepentingan dalam masyarakat itu secara berkeadilan serta menerapkan srtategi integrasi yang relevan.   

Kondisi budaya yang ada di Indonesia saat ini berdasarkan struktur horisontal dan vertikal masyarakat Indonesia sebagaimana diuraikan. Kondisi masyarakat Indonesia saat ini sudah sangat modern. Hal ini dipengaruhi karena adanya perkembangan zaman yang sangat pesat dengan adanya arus globalisasi yang amat pesat. Hal ini mengakibatkan adanya pengaruh atau dampak yang sanagt luas pada sistem kebudayaan masyarakat. Begitu cepatnya pengaruh budaya asing tersebut menyebabkan terjadinya goncangan budaya (culture shock), yaitu suatu keadaan dimana masyarakat tidak mampu menahan berbagai pengaruh kebudayaan yang datang dari luar sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam kehidupan masyarakat yang bersangkutan

Perubahan yang terjadi sangat jelas terlihat mulai dari bidang teknologi, perekonomian masyarakat hingga tingkat pendidikan anak-anak. Pada era saat ini, tindak kejahatan kriminalitas di Indonesia juga banyak terjadi di dalam  setiap lapisan masyarakat. Rendahnya kualitas moral, tata laku, sopan-santun, cara berbicara, cara bergaul dan menentukan pandangan pada zaman sekarang juga sangat berubah dari zaman sebelum adanya pengaruh globalisasi yang masuk kedalam negara Indonesia. Tindakan stereotip, etnosentrisme juga akhirnya tumbuh pesat di antara masyarakat dan tidak jarang pula menyebabkan konflik-koflik kecil hingga besar di anatar suku atau etnis. Kejadian-kejadian ini tumbuh karena adanya rasa memiliki dan takut akan adanya budaya asing yang akan menghancurkan budaya asli mereka sendiri.

Sebaliknya, unsur dinamika merupakan unsur yang menghendaki adanya perubahan, misalnya adanya perubahan lingkungan alam, nilai-nilai sosial, dan perubahan struktur sosial. Adanya unsur dinamika inilah yang sesuai dengan masyarakat meskipun terjadi perubahan-perubahan di dalam masyarakat. Untuk melestarikan kesinambungan kehidupan masyarakat agar tetap eksis tentu saja kita harus menjunjung jati diri bangsa.

 

Analisis ketahanan sosial budaya Indonesia:

Rasa kebanggaan dan memiliki (nasionalisme) yang tinggi atas seluruh sumber daya dan kekayaan alam serta budaya bangsa pada seluruh lapisan masyarakat, dapat ditanamkan sejak usia dini. Dapat dijalankan melalui proses pendidikan yang terencana dan terarah. Hal ini dilakukan agar tidak terjadinya krisis ketahanan sosial budaya di dalam masyarakat. Seperti yang kita ketahui pada saat ini, banyak terjadi masalah sosial budaya yang terjadi antara negara kita dengan negara tetangga contohnya Malaysia yang kerap beberapa kali mengklaim budaya yang dimiliki oleh Indonesia. Salah satunya yaitu klaim dan mematenkan motif batik “Parang Rusak”. Hal ini tentu saja membuat warga negara Indonesia merasa tidak terima atas perlakuan negara Malaysia dan akhirnya cukup mengganggu adanya hubungan sosial antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah negara Malaysia. Akan tetapi, Indonesia cukup lamban dalam menyikapi budaya yang dimilikinya. Pemerintah Indonesia baru memberikan reaksi dan mendaftarkan warisan budayanya tersebut ke United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) setelah adanya klaim dari negara lain. Selain itu, rasa memiliki akan budaya sendiri juga belum dapat di implementasikan secara nyata oleh masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari adanya sikap yang kurang memperhatikan kelestarian budayanya sendiri dengan lebih mencintai budya dari negara lain. Mengenal budaya lain memang di perbolehkan dan dianjurkan. Akan tetapi, tujuannya adalah untuk memperkaya dan meningkatkan kualitas kebudayaan nasional bukan untuk mengabaikan budaya lokal itu sendiri. Yang terjadi saat ini, generasi muda justru lebih mencintai kebuudayaan dari luar seperti Korea, Jepang, Thailand, Amerika, dan lain-lain. Hal ini terjadi akibat pengaruh globalisasi yang masuk ke Indonesia tidak di tanggapi secara arif pengaruh nilai-nilai budaya dari luar untuk mengembangkan dan memperkaya kebudayaan nasional. Apabila hal ini tetap terjadi secara terus menerus maka dapat terjadi integrasi sosial budaya yang bersifat negatif atau menjadi tidak perduli dengan kehidupan sosial masyarakat yang lain dan kebudayaan yang dimilikinya saat ini. Ketidak perdulian ini, dapat menimbulkan konflik-konflik antar kelompok sosial pada struktur sosial yang berbeda di dalam masyarakat. Sifat saling memahami dan toleransi akan keberanekaragaman budaya yang ada di Indonesia maupun di luar negeri akan menjadikan terjalinannya kerukunan yang baik antar negara. Sifat perduli dan rasa memiliki yang tinggi berdasarkan Pancasila, akan menjadikan ketahanan sosial dan budaya di Indonesia semakin kokoh. Hubungan sosial yang baik juga akan menjadikan terjalinnya kehidupan bermasyarakat yang damai. Kita sebagai masyrarakat Indonesia harus memupuk rasa sosial yang tinggi terhadap lainnya dalam hidup berdampingan akan menjadikan kerukurunan antar anggota masyarakat menjadi lebih baik. Bukan menjadi masyarakat yang begitu individualis terhadap manusia lain seperti yang saat ini terjadi di daerah perkotaan. Rasa saling kesatuan yang tinggi saat ini juga sudah makin hilang dengan adanya pandangan mengenai pelapisan sturuktur sosial yang kurang tepat dalam menyikapinya.

Oleh : Risky Pangaribuan – Maper 2015

 

3.5 2 votes
Article Rating