Resume

Tata Pelaksanaan

Diskusi Kampus II telah terlaksana pada hari Rabu, 2 Desember 2020 dengan tema ‘Peluang dan Tantangan Mahasiswa dalam menghadapi Era Disrupsi Teknologi’ yang dibawakan oleh abangda Hotman Nainggolan S.E., M.H. Diskusi berlangsung mulai pukul 17.20 dan dihadiri oleh 48 partisipan yang dilihat dari absensi Microsoft Forms yang telah disediakan oleh Pengurus Komisariat. Partisipan terdiri dari anggota GMKI FEB USU serta beberapa anggota organisasi intra maupun ekstra yang ada di lingkungan FEB USU seperti CC, GMNI serta Pengurus Komisariat sejajaran. Diskusi Kampus II dimulai dari pembukaan oleh Riris Simbolon (Wasek Organisasi dan Komunikasi) sebagai MC. Mulai dari kata pembuka, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pembacaan CV moderator. Kemudian, dilanjutkan oleh Veronika Sinaga (Biro Aksi dan Pelayanan) selaku moderator untuk memandu berjalannya Diskusi Kampus II. Dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh abangda Hotman Nainggolan, S.E.,M.H. Setelah pemaparan materi dilanjutkan dengan satu kali sesi tanya jawab. Setelah sesi tanya jawab usai kemudian dilanjutkan dengan closing statement oleh pemateri dan moderator kemudian ditutup oleh MC.

 

Resume Materi

PELUANG DAN TANTANGAN MAHASISWA DALAM MENGHADAPI ERA DISRUPSI TEKNOLOGI

Pengertian Disrupsi

Menurut Rhenald Kasali, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (2018), disrupsi adalah sebuah inovasi yang akan menggantikan seluruh sistem lama dengan cara-cara yang baru. Namun, inovasi dalam konteks disruption bukan inovasi dalam pengertian lama sebagai doing the new things. Dengan kata lain, disrupsi merupakan lompatan perubahan dalam hal inovasi yang mengandalkan teknologi informasi (TI) dan AI didalamnya.

 

 

 

 

 

 

Revolusi Industri 4.0 dan Dampaknya

Dimulai pada tahun 2000, Revolusi Industri generasi keempat ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Revolusi Industri ini sangat berbeda dengan Revolusi Industri sebelum–sebelumnya.

Hal inilah yang disampaikan oleh Klaus Schwab, Founder dan Executive Chairman of the World Economic Forum dalam bukunya The Fourth Industrial Revolution dengan adanya transaksi data yang besar, Smart Factory, Virtual Reality yang kalau digabungkan akan menjadi suatu perubahan yang besar. Menurut Majalah Warta Ekonomi (1 November 2017) diperkirakan dalam 10 tahun mendatang ada 10 pekerjaan yang akan hilang, setidak-tidaknya tidak dibutuhkan lagi, yaitu : Post Office Worker, Loan Officer, Cashier, Bank Teller,Insurance Salesperson, Telemarketing, Lecturer, Travel Agent,Librarian, Fast Food Worker. Dari 10 pekerjaan yang akan hilang dalam 10 tahun mendatang tersebut, dapat kita lihat ada 4 bidang pekerjaan yang langsung berkaitan dengan industri perbankan, yakni : Loan Officer, Cashier, Bank Teller dan Telemarketing.

Adapun dampak positif yang dapat dirasakan dari Revolusi Industri 4.0 seperti: layanan yang semakin cepat, akurat dan lebih berkualitas; akurasi layanan semakin tepat; produktivitas dan efisiensi semakin meningkat; mendorong perusahaan untuk melakukan transformasi yang radikal; serta potensi bisnis semakin besar, resiko juga semakin meningkat. Sedangkan dampak negatifnya ialah seperti: persaingan semakin meningkat, muncul pesaing pesaing baru perusahaan start up yg padat teknologi; semakin meningkatnya resiko operasional, dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi internet, seperti layanan online banking, digital banking dll.; meningkatnya kejahatan perbankan (Cyber Crime); serta pengurangan SDM yang sangat signifikan.

Persiapan Mahasiswa memasuki Era Disrupsi Teknologi

Dunia telah berubah drastis dan radikal, disadari atau tidak Covid 19 telah mempercepat hadirnya berbagai perubahan dibidang TI dan AI. Langkah-langkah yang harus ditempuh bukan lagi semata-mata sebagai langkah antisipatif, tetapi sudah harus langkah adaptif. Untuk itu Mahasiswa harus mempersiapkan diri dengan melakukan transformasi kedalam/diri sendiri, melalui :

  1. Reorientasi mindset. Pola pikir mahasiswa harus berubah radikal dari sekedar Knowing (hanya mengetahui/ memahami) menjadi Being (mengetahui/memahami dan melaksanakannya dengan benar penuh tanggungjawab). Mental mencari pekerjaan menjadi menciptakan pekerjaan.
  2. Menangkap peluang perubahan bisnis dari Owning Economy menjadi Sharing Economy.
  3. Kreatif dalam memanfaatkan TI.
  4. Membangun karakter (Character Building) yang ramah dan bersahabat dengan TI/AI. Karakter yang menjadi jati diri seseorang harus diperkuat untuk menghadapi era disrupsi ini, karena karakter tidak dimiliki oleh AI.
  5. Mengembangkan entrepreneurship skill melalui inovasi. Konsep efisiensi dan produktivitas pada gilirannya hanya bisa bertahan saja, tetapi untuk menang dalam persaingan perlu inovasi, kreativitas, dan enterpreneurship.

 

4 1 vote
Article Rating