Murid Kristus Yang Terdidik Dalam Kebenaran

 

        Syalom saudara terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus, apa kabarnya hari ini? Semoga damai sejahtera dan kasih sukacita dari Tuhan senantiasa menyertai kita semua. Sehingga bagaimanapun situasi dan kondisi yang kita hadapi, kita tetap dapat senantiasa bersyukur atas segala kehendak dan ketetapan-Nya dalam hidup kita.

        Pendidikan, hari ini kita akan mencoba memahami makna dari pendidikan. Dalam kehidupan sehari-hari, belajar adalah sebuah proses yang kita alami, yang tidak hanya didapati ketika kita menimbah ilmu dalam sebuah lembaga pendidikan atau pendidikan formal. Keluarga adalah wadah pendidikan pertama yang kita lalui, pengajaran dari kedua orang tua kita khususnya akan memberikan pengaruh bagi setiap anak di kala dewasa, oleh karenanya keluarga dikatakan memegang peran yang sangat penting dalam pendidikan setiap anak. 

        Setiap hari, sedikit banyaknya akan ada hal baru yang kita dapati, yang kita coba pahami, kemudian akan kita jadikan sebagai pengetahuan akan suatu hal. Adakalanya kita harus belajar dari situasi orang sekitar, menanggapi kejadian atau peristiwa, belajar dari pengalaman hidup orang lain, belajar dari kesalahan diri sendiri, dan sebagainya. Pengetahuan-pengetahuan yang didapatkan dari proses belajar inilah yang akan menjadi dasar bagi setiap orang dalam memandang suatu hal, mencari sebuah kebenaran dan sebagai modal untuk menghadapi dunia yang semakin berkembang.

        Lantas bagaimanakah perspektif Kristen sendiri berdasarkan Alkitab tentang pendidikan itu? Apa dan bagaimanakah sebuah pendidikan itu seharusnya? Akal dan budi pekerti adalah dua hal yang dianugerahkan Tuhan Allah kepada setiap manusia, yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk ciptaan lainnya. Hal inilah yang menjadikan manusia dapat membedakan hal yang baik dan salah, juga untuk membuat kita mengerti bahwa Dia ada dan selalu hadir dalam hidup kita. Oleh karenanya sebelum mempelajari dan mencoba memahami segala sesuatu, terlebih dahulu kita memiliki dasar  yang kuat terhadap Tuhan, karena Tuhan adalah sumber kebenaran akan segala sesuatu. 

        Salomo menyatakan kalau dasar dari semua pengetahuan yang benar adalah “takut akan Allah” (Ams 1:7). Kata “takut” di sini tidak berarti terteror atau ketakutan, melainkan tunduk serta hormat terhadap kekudusan dan keagungan Allah sehingga timbul keengganan untuk mengecewakan atau tidak menaati-Nya. Yesus berkata bahwa ketika kita mengetahui kebenaran, maka kebenaran akan memerdekakan kita (Yoh 8:32). Kebebasan dari rasa takut ini ketika seseorang terdidik di dalam Kebenaran.

        Pengajaran daripada Yesus Kristus merupakan pengajaran yang utama dan menjadi teladan bagi setiap orang percaya untuk kemudian melakukan segala sesuatu dalam hidup.  Landasan dasar yang digunakan dalam pendidikan adalah Firman Tuhan. Firman Tuhan merupakan sumber keselamatan, kebenaran, hikmat dan pengetahuan. “Sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” (Kol. 2:3). Oleh karena itu, segala sesuatu hal yang tidak didasarkan pada kebenaran terhadap Allah akan menjadi sebuah kesia-siaan. Pendidikan yang dikembangkan akan menjadi praksis yang menyesatkan dan mengingkari Tuhan sebagai sumber-sumber keselamatan, kebenaran, sumber hikmat dan sumber pengetahuan. Oleh karenanya, ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur bagi setiap orang, apakah sudah terdidik dalam kebenaran akan Allah, yakni Hati (Hearth), Kepala atau pikiran (Head), dan perilaku dan kebiasaan (Habit).

        Hati seorang murid Kristus akan terlihat jelas perbedaannya terhadap orang yang tidak terdidik. Seorang Murid Kristus yang terdidik hanya meninggikan Tuhan: Tuhanlah obyek penyembahannya, sumber rasa amannya, Tuhanlah harga dirinya, Tuhanlah yang menjadi dasar utama dalam setiap keputusan-keputusannya. Sehingga ini akan tercermin dalam seorang pribadi yang senantiasa berkarakter rendah hati: tidak meninggikan diri, mempunyai transparansi dan keefektifan, terus berjalan dalam iman selangkah demi selangkah, serta mempunyai perspektif Ilahi mengenai sebab-akibat.

        Kedua, yaitu kepala atau pikiran (Head), ini menyangkut bagaimana pola pikir kita sebagai murid Kristus, apakah sesuai dengan pikiran Kristus, apakah jelas, terarah, dan efektif? Pikiran murid Kristus yang terdidik meneladani pikiran dan perasaan Kristus. Pendidikan yang berdasar alkitabiah bisa mengubahkan kita karena akan memperbaharui pikiran kita (Rom 12:2). Proses yang berkelanjutan dari menerapkan pengetahuan berdasarkan pemikiran Kristus, “yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita.

        Ketiga perilaku atau kebiasan (Habit),  bicara mengenai pola perilaku kita setiap hari sebagai murid Kristus, mampu mendisiplinkan diri sendiri setiap hari, dan menundukkan diri pada pimpinan Roh Kudus. Hal ini juga berbicara tentang bagaimana setiap kita dapat memanfaatkan waktu yang kita punya di dunia dengan sebaik-baiknya. Apakah waktu kita telah kita manfaatkan dengan baik untuk hal-hal positif atau tidak.

        Nah, dari penjabaran sebelumnya dapat disimpulkan bahwa dalam perspektif Kristen tidak saja mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan masa depan, tetapi juga kehidupan dalam kebersamaan dengan Allah. Ketika kita sudah memiliki hati dan pikiran yang berkenan di dalam Dia, maka hal itu akan mengubah segala sesuatu kebiasaan buruk kita sebagai bukti bahwa kita telah terdidik dalam kebenaran Allah, kita akan berhenti menunda-nunda pekerjaan, menghilangkan kebiasaan buruk, terhindar dari pergaulan yang buruk, dan lain-lain. Sehingga di dalam prosesnya kita akan senantiasa beroleh kebenaran dan pengetahuan sejati tentang dia, yang juga akan menjadi tuntunan berkat dalam kita melalui proses belajar di dunia, meraih segala asa, cita dan impian yang ingin kita raih untuk kemudian kita menjadi berkat bukan hanya dalam diri kita tetapi juga bagi banyak orang.

Renungan.pdf (unduh)

5 1 vote
Article Rating