ANTARA KESEHATAN DAN EKONOMI DITENGAH PANDEMI

Saat ini tengah terjadi kebisingan hingga penjuru Nusantara. Tidak hanya Indonesia dunia pun juga ikut membicarakan hal ini. Sebuah penyakit yang dapat menular kepada siapa saja dan penyakit yang mematikan. Tim medis menyebut penyakit ini disebabkan oleh sebuah virus yang disebut dengan virus Corona atau Covid-19.

Covid-19, awalnya menjadi trending di negara Wuhan, China pada bulan November tahun lalu. Dan kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga akhirnya Indonesia mengalami dampak dari covid-19 ini. Menurut data Worldometers per-20 April 2020 ada sebanyak enam ribu tujuhratus enampuluh (6760) yang telah terkonfirmasi kasus positif Covid-19 ini. Dengan negara terbesar yang terkena Covid-19 ini adalah negara Amerika Serikat dengan 587.173 kasus, yang diantaranya ada 23.644 kasus kematian dan 36.948 orang dinyatakan sembuh.

Indonesia merupakan salah satu negara yang terkena dampak dari virus Corona ini. Semenjak presiden Indonesia, Joko widodo mengumumkan dua (2) orang Warga Negara Indonesia (WNI) positif terkena Covid-19. Antisipasi terus dilakukan hanya saja korban terus bertambah dari hari ke hari. Banyak pasien yang meninggal dunia dan tak sedikit yang dinyatakan positif dan ahkirnya sembuh. Sejak 07 April 2020 total kasus Covid-19 di Indonesia mencapai 2.738 kasus.

Pertambahan korban yang terjadi saat ini perlu perhatian yang sangat serius dari masyarakat dan pemerintah. Covid-19 penyebarannya sangat cepat dan termasuk penyakit yang menular. Untuk itu pemerintah Indonesia telah melakukan kebijakan salah satunya lock down atau physical distancing. Hanya saja setelah dilakukan kebijakan tersebut korban tetap saja terus bertambah dan setelah kebijakan physical distancing dilakukan hampir seluruh sekolah dan perguruan tinggi proses pertemuan kegiatan belajar mengajar diberhentikan dan diberlakukan secara online (daring). Tak hanya sekolah dan perguruan tinggi, tempat-tempat hiburan, rumah makan, dan beberapa perusahaan juga dilockdown.

Kondisi Realitas Saat ini

Ketika kebijakan physical distancing sedang gencar-gencarnya diserukan oleh media, namun masyarakat saat ini kurang menggubris kebijakan tersebut. Dimana jika kita lihat kondisi realitas yang terjadi saat ini masih banyak masyarakat yang berkumpul-kumpul ditempat keramaian. Walaupun seperti itu, kebijakan yang dilanggar oleh masyarakat tersebut juga salah satu kelalaian pemerintah dikarenakan kurang tegasnya dalam mengeksekusi kebijakan yang telah dibuat.

Kebijakan lockdown adalah kebijakan yang diartikan sebagai penutupan akses masuk maupun keluar suatu daerah yang terdampak. Jadi ketika melockdown kan di daerah yang terkena Covid-19 dengan korban yang paling banyak hal tersebut merupakan solusi terbaik untuk menghilangkan atau memutuskan mata rantai penyebaran tersebut daripada physical distancing yang telah ditetapkan saat ini namun masih banyak korban yang berjatuhan.

Ketika Negara Indonesia sudah sepenuhnya di lockdown atau daerah yang penyebaran Covid-19 sudah dikarantina hal itu akan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah bahkan negara. Saat ini Jakarta merupakan urutan pertama kasus Covid-19 ini. Dimana Jakarta juga merupakan pusat kegiatan ekonomi Indonesia terbesar saat ini. Jika kebijakan lockdown dilakukan ini merupakan pertaruhan antara keselamatan ekonomi dan keselamatan Indonesia. Kondisi ini sangat memiliki dampak yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dan ini merupakan suatu dilema atau pilihan terbesar yang harus dikorbankan. Jika pemerintah memilih kesehatan maka pemerintah harus mengorbankan ekonomi Indonesia, hal tersebut akan berdampak bahwa siap tidak siap pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun. Namun sebaliknya, jika pemerintah lebih memilih ekonomi dengan tidak diberlakukan nya lockdown, maka korban Covid-19 akan terus bertambah dan mata rantai penyebaran virus ini tak akan dapat diputuskan.

Walaupun Indonesia dihadapkan oleh dua pilihan antara kesehatan dan ekonomi. Mau tidak mau, siap tidak siap Indonesia harus memilih kesehatan dan akan mengorbankan ekonomi. Hal tersebut dikarenakan ketika Covid-19 ini berlalu perekonomian masih dapat ditumbuhkan sementara nyawa rakyat Indonesia yang terkena wabah ini tak akan dapat dikembalikan. Tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini akan terus mengalami penurunan hal tersebut disebabkan karena anggaran pemerintah banyak sekali terkuras untuk menangani Covid-19 ini. Dana kontigensi disektor kesehatan untuk kebutuhan penanganan Covid-19 sudah dapat dipastikan telah membengkak diluar perkiraan. Untuk itu pemerintah telah menambah anggaran penanganan Covid-19 sebesar 405.1 triliun rupiah. Dimana anggaran tersebut akan dialokasikan  75 triliun rupiah untuk kesehatan, untuk perluasan social safety 110 triliun rupiah, untuk dukungan dunia usaha sebesar 70.1 triliun rupiah, dan untuk program pendukung pemulihan ekonomi sosial sebesar 150 Triliun rupiah. Alokasi dana ini akan menurunkan tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia 3-5%. Dengan kata lain pertumbuhan ekonomi Indonesia akan turun dan mencapai 2.3%  atau dengan kemungkinan yang paling buruk akan mencapai -0.4%.

Apa yang harus dilakukan?

Covid-19 akan terus berkembang jika mata rantai penyebarannya tidak segera diputuskan. Perubahan nya sangat cepat dan sangat radikal. Masalah utama bukan dimasalah ekonomi tetapi masalah kesehatan. Ekonomi hanya impact namun kesehatan ini sangat cepat dan sangat sulit untuk mengantisipasi dampaknya. Kasus Covid-19 ini , sama dengan wabah flu burung yang pernah terjadi di Indonesia. Hanya saja perbedaannya untuk memberhentikan wabah flu burung unggas nya dapat dibasmi, sementara Covid-19, apakah mungkin manusianya yang akan dibasmi?

Untuk itu jaga jangan sampai terjadi penularan. Jaga jarak, work from home, setelah itu baru kita bergerak untuk kepentingan ekonomi. Selagi banyak waktu kosong mari saatnya lihat peluang. Berinovasi, kembangkan bisnis yang sudah ada, inovasi bisnis e-commerce, inovasi daring, inovasi digital dan sebagainya. Karena jika hanya dirumah saja namun pikiran tak ada pergerakan maka ekonomi juga tidak akan bergerak,

Yuk menggerakkan ekonomi dari berpikir , siapa tahu kita adalah Einstein reborn.

#stayHome

#staySafe

 

Oleh : Kartika Lubis

Ekonomi Pembangunan, Maper 2018