Sebuah Rindu kepada Ilmu

Lidia Sri. EP’20

       

        Saat sinar surya mulai merekah, aku kembali membuka mata indah ini. Aku menatap langit-langit kamar yang seolah berkata, “Bangunlah! Impianmu sudah menunggumu di sana. Tak ada waktu untuk bermalas-malasan lagi.” Aku berusaha menopang badan yang lemah ini. Aku ingin menciptakan semangat dalam diri ini agar impian yang ingin kuraih, tidak menungguku terlalu lama.

        Lembar demi lembar, halaman demi halaman. Mulai kubaca dan kupahami. Walau sulit, walau berat, aku tetap menghadapinya. Ingin aku berhenti sejenak, tetapi tulisan itu seolah berkata kepadaku, “Ingat pendidikan itu penting. Ilmu yang akan kuberikan, tidak akan sia-sia”

        Dua belas tahun lamanya aku bergelut dengan buku-buku ini. Dua belas tahun lamanya sudah kujalani lika-liku pendidikan ini. Kini empat tahun kedepan, aku akan tetap bergelut dengan buku. Hal itu kulakukan hanya demi sebuah pendidikan. Pendidikan yang mengantarkan aku menuju impianku di sana.

        Tidak hanya berhenti sampai di empat tahun kedepan, tetapi selama mata indah ini masih memandang langit yang cerah dan terangnya sang surya, teruslah berteman dengan pendidikan dan berbaur dengan ilmu. Pendidikan yang kujalalani memang tak seindah kisah romantis Romeo dan Juliet, tetapi ilmu yang akan kuperoleh dari pendidikan yang telah kujalani melebihi indahnya kisah romantis Romeo dan Juliet. Ilmu itu seperti bumbu. Tanpa ilmu, hidupmu akan terasa hambar.

        Aku terhenti sejenak. Aku tidak menyadari bahwa Jemari yang, menari-nari telah menciptakan tulisan seindah ini. Jemariku kini harus terhenti sejenak setelah aku mendengar ucapan “selamat pagi anak anak” Yang menandakan perkuliahanku hari ini akan dimulai. Perkuliahan yang terkesan rumit tetapi penuh sejarah. Salam hangat kepada kuliah daring ku pagi hari ini. Tersisip sebuah kalimat, ” seburuk-buruknya manusia, adalah lebih buruk dirinya yang tak menggunakan pendidikan untuk mengejar cita-citanya”.

Narasi.pdf (unduh)

 

4 1 vote
Article Rating