Makna Natal: Realita atau Fatamorgana?

by : Kartika Lubis Ep’18

 

Saat ini kita tengah memasuki bulan terahkir di tahun 2021 yaitu bulan Desember. Bulan Desember selalu identik dengan romantisme natal dengan berhiasan  ornamen-ornamen merah dan putih serta cahaya kerlap kerlip lampu yang diberhiasan disebuah pohon dan biasanya dipajang disudut gereja serta tempat paling  terbaik didalam rumah.

Natal di tahun 2021 merupakan natal peralihan dari pasca covid-19 yang saat ini perlahan lahan sudah menuju dengan keadaan kebiasaan baru atau sering disebut dengan new normal. Banyak perubahan yang terjadi akibat covid-19 selain perubahan pola interaksi sosial, pola hidup sehat, hingga pola ritual keagaaman berlangsung berubah.

Pada tahun 2020 banyak tempat gereja, instansi pemerintahan,komunitas dan organisasi  merayakan sukacita natal berjumpa secara virtual, tidak jarang juga gereja hanya menyediakan akses link youtube,  melalui perjumpaan  zoom atau goggle meet. Natal 2020 tidak perlu baju baru, sepatu baru, tidak perlu mencari dana untuk konsumsi dan sewa gedung yang megah, tak ada kemewahan semua nya hanya perlu dengan kekuatan gadget dan sambungan internet didalam rumah masing-masing.

Esensi natal yang selama ini direfleksikan tanpa kemewahan perlahan-lahan hampir terbukti ditahun 2020. Lalu bagaimana dengan romantisme natal ditahun ini? Diperjalanan tahun 2021, manusia perlahan-lahan mulai berdamai dengan kondisi covid-19, perekonomian perlahan tumbuh, target pemerintah untuk melakukan vaksinasi massal selalu digerakan hingga masyarakat memulai tatanan kehidupan nya dengan pola kebiasaan baru. Ritual ibadah natal berangsur-angsur dilakukan secara tatap muka hingga akhirnya semuanya kembali ke kondisi semula.  Dan natal pun hanyalah sebuah romantisme siapa yang paling mewah, bukan tentang makna siapa yang sederhana dengan filosofis kelahiran dikandang domba.

Indahnya romantisme natal dan segala pernak perniknya membuat kita terlena bahwa dibalik itu ternyata diwarnai dengan gejolak yang menimbulkan kegalauan berkepanjangan. Tahun 2021, menjelang perayaan natal permasalahan diluar dugaan kita semua, dimulai dengan awal november hingga bulan desember saat ini permasalahan lingkungan disekitar kita sangat memprihatinkan, banjir bandang yang menghantam sejumlah wilayah di pulau kalimantan dan pulau jawa. Tidak hanya banjir bandang saja namun cuaca ekstrem,gelombang tinggi serta kebakaran hutan juga menimbulkan kerugian tak hanya kerugian fisik namun juga kerugian ekonomi.

Tidak hanya sampai dengan permasalahan banjir bandang, kemudian baru-baru ini didalam bulan yang penuh dengan cerita manis dan romantisme juga menimbulkan pilu bagi masyarakat yang tinggal disekitaran Gunung Semeru, Jawa Timur. Sehingga dalam becana alam ini menimbulkan banyak korban jiwa dan mengharuskan masyarakat sekitar untuk mengungsi

Ini merupakan contoh permasalahan dari ribuan masalah yang tejadi di negeri ini. Situasi ini juga tentu memicu kegelisahan dikalangan umat kristen seperti apa seharusnya kita mengekspresikan perayaan natal? Apakah setiap permasalahan yang ada, kita melihat itu dengan sudut pandang fatamorgana saja? Apakah perayaan natal kali ini harus mengalami transformasi? bukan dengan perayaan meriah dan bukan pula hanya dengan peralihan metode dari offline ke online seperti tahun sebelumnya tetapi menyadi ibadah reflektif untuk menemukan kembai makna penyelamatan dibalik penderitaan sesama.

Didalam Amanat Agung Yesus kristus menunjukan suatu pengertian terkait makna natal itu sendiri yaitu  peringatan kasih Tuhan kepada manusia karena itulah Ia mau turun kedunia. Hal ini menunjukan sebagai bentuk peringatan akan kasih dan keperdulian.

Natal adalah momen untuk berbagi bukan hanya pribadi. Berdoa bagi mereka yang tidak terjangkau serta berdoa untuk mereka yang rindu merasakan suasana natal tanpa ada ancaman bencana. Jika Kristus bersedia menjelma menjadi manusia turun ke bumi dan meninggalkan tahta Nya dikerajaan sorga , kenapa kita selalu mengklaim bersukacita memperingati kedatanganNya tetapi tidak mampu meneruskan kasih-Nya

Natal ditengah bencana bukan lah sebuah fatamorgana namun realita yang tak boleh dipandang sebelah mata. Natal merupakan kesempatan untuk memaknainya secara baru serta dapat menemukan makna kasih sejati.

 

Opini.pdf (unduh)

4 1 vote
Article Rating